Profesor RSUD Dr. Soetomo Memberikan Edukasi Mengenai Penyakit Kusta dan Pencegahannya  –Profesor RSUD Dr. Soetomo Memberikan Edukasi Mengenai Penyakit Kusta dan Pencegahannya  –

Pada tanggal 3 Februari 2023, Prof. Dr. dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV memberikan edukasi secara eksklusif melalui channel youtube Dokter UNAIR TV mengenai penyakit kusta. Kegiatan ini dipandu oleh salah satu staf pengajar Departemen Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya, yaitu Dr. Medhi Denisa Alinda,dr.,SpKK,FINSDV. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia yang jatuh pada minggu ke-4 bulan Januari. Perayaan hari kusta ini bertujuan untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat mengenai penyakit kusta dan pentingnya eradikasi penularan dan stigma di masyarakat. 

Penyakit kusta atau lepra merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Berdasarkan prinsip epidemiologi, penularan suatu penyakit dipengaruhi oleh interaksi antara host-agent-environment di lingkungan setempat.  Kusta menular secara pernafasan tapi membutuhkan waktu lama, harus ada kontak erat dan berlangsung secara terus-menerus serta manusia yang tertular memiliki kerentanan untuk tertular, seperti sistem imun yg turun.

Kusta ditandai dengan adanya gejala cardinal sign antara lain adanya bercak berwarna putih atau merah yang tidak berasa seperti gatal dan nyeri serta ditemukan bakteri basil tahan asam atau M leprae. Pada dasarnya kusta menyerang saraf tepi sehingga ada 3 komponen saraf yg terlibat, yaitu sensoris, motorik dan otonom. Infeksi kusta pada saraf motorik menyebabkan mati rasa, infeksi pada saraf motorik menyebabkan kelemahan dan saraf otonom menyebabkan daerah tersebut sulit untuk berkeringat. 

Jika seseorang sudah terkena kusta, hal pertama yang harus dilakukan adalah menegakkan diagnosis  berdasarkan cardinal sign. Selanjutnya dilakukan pengobatan pada kusta. Pengobatan dibagi menjadi 2 berdasarkan tipe kusta, antara lain kusta pausi basiler (kusta kering) dan kusta multi basiler (kusta basah) yang berbeda secara durasi dan regimen pengobatannya. Selain edukasi kepada pasien untuk bertahan saat pengobatan karena membutuhkan waktu yang lama. 

Untuk mencegah penyakit kusta, Profesor Cita menyatakan hal yang bisa kita usahakan adalah mengelola environment dan host agar tidak mendukung adanya penularan. Hal itu bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta menjaga kesehatan tubuh dengan mengembalikan regulasi pertahanan tubuh.

editor: Ovin Nada Saputri

Bersahabat dengan Low Vision –Bersahabat dengan Low Vision –

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan bahwa low vision banyak terjadi di seluruh dunia dengan perkiraan prevalensi 3- kali lebih besar dibandingkan dengan kasus kebutaan. Di Indonesia sendiri, 210.000 anak berusia 1-15 tahun di Indonesia mengalami low vision. Namun sayangnya, low vision belum banyak dikenali dan dipahami oleh masyarakat Indonesia walaupun sudah banyak yang mengalami kondisi tersebut.

Salah satu narasumber Dokter Unair TV pada segmen Dokter Edukasi yang ditayangkan pada tanggal 3 Maret 2023, dr. Ria Sandy Daneska, Sp.M(K), menjelaskan bahwa low vision mengganggu sebagian penglihatan manusia, bukan secara total. “low vision tidak dapat disembuhkan dengan cara apapun, namun bisa dimaksimalkan sisa penglihatannya untuk menunjang kehidupannya”, ungkap dr. Ria.

Secara umum, low vision bukan merupakan penyakit yang diturunkan. Ada beberapa penyebab penyakit ini, yaitu pernah adanya luka atau infeksi pada kornea dan lensa mata, ada kelainan retina, juga karena riwayat katarak. Di samping itu, penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok umur, dari lahir hingga lansia.

Perlu Pemeriksaan Khusus

Pemeriksaan tajam penglihatan akan dilakukan pada pasien yang mengeluhkan adanya gangguan penglihatan secara umum. Setelah itu, pasien akan diperiksa jarak baca yang dekat, sensitivitas kontras, jarak lapang pandang, penglihatan warna, sensitivitas terhadap glare (silau), dan penglihatan binokuler (kedua mata). Dengan pemeriksaan ini, dapat ditentukan diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat bagi pasien.

Bila merasakan gejala-gejala penurunan penglihatan, maka pasien harus meluangkan waktu untuk menemui dokter spesialis mata karena pemeriksaan low vision memerlukan waktu yang cukup banyak.

“Deteksi sedini mungkin, apabila kita mencurigai anggota keluarga, teman, dan murid kita segera diperiksakan ke dokter spesialis mata terdekat”, ungkap dr. Ria. Hal ini ditujukan untuk mencegah adanya keparahan serta menangani gangguan mata tersebut dengan tepat.

Dokter UNAIR TV merupakan program edukasi dari Fakultas Kedokteran UNAIR yang berkolaborasi dengan RSUD Dr. Soetomo yang aktif membahas topik-topik kesehatan bagi masyarakat. Masyarakat dapat menyaksikan serial ini melalui kanal YouTube Dokter UNAIR TV.

Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL (K), FICS, FISCM Mengulas Misteri ‘Stroke Telinga’ dan Pentingnya Penanganan Cepat melalui Dokter UNAIR TV –Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL (K), FICS, FISCM Mengulas Misteri ‘Stroke Telinga’ dan Pentingnya Penanganan Cepat melalui Dokter UNAIR TV –

Tuli mendadak, atau yang sering disebut sebagai ‘Stroke Telinga’ oleh masyarakat, merupakan kondisi yang dapat menghampiri siapa saja secara tiba-tiba dan memiliki potensi mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam penjelasan yang disampaikan melalui akun YouTube resmi Dokter UNAIR TV, Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL (K), FICS, FISCM, selaku guru besar di bidang ilmu Neurotologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, mengupas beberapa aspek krusial terkait tuli mendadak.

Tuli Mendadak: Apa Itu dan Bagaimana Terjadi?

Tuli mendadak adalah kondisi kehilangan pendengaran secara tiba-tiba yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 3 hari. Dalam siaran kali ini, dokter Nyilo Purnami menjelaskan bahwa tuli mendadak dapat muncul dalam berbagai derajat, mulai dari ringan hingga sangat berat. Gejala yang muncul termasuk tinnitus (denging dalam telinga), perasaan penuh di telinga, dan bahkan vertigo.

Penyebab Tuli Mendadak

Penyebab tuli mendadak sangat bervariasi, mulai dari infeksi virus, kelelahan, faktor lingkungan, hingga adanya komorbiditas seperti diabetes atau kolesterol tinggi. Beliau mengatakan, “Pada prinsipnya gangguan tersebut bisa terjadi pada semua orang.” Oleh karena itu, Dokter Nyilo Purnami menekankan bahwa menjaga kesehatan tubuh secara umum, termasuk nutrisi yang baik, olahraga teratur, dan tidur yang cukup, dapat membantu mencegah gangguan pendengaran.

Faktor Risiko dan Identifikasi Awal

Tuli mendadak bisa terjadi pada siapa saja, namun faktor risiko seperti kelelahan, paparan suara keras, dan kondisi medis tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya. Identifikasi awal gejala seperti tinnitus, vertigo, atau penurunan mendadak dalam kemampuan pendengaran sangat penting untuk segera mencari bantuan medis.

Gejala dan Pemeriksaan Pendengaran

Gejala awal tuli mendadak melibatkan perasaan penuh di telinga, tinnitus, dan hilangnya pendengaran. Pemeriksaan pendengaran, terutama audiometri, diperlukan untuk menilai seberapa parah gangguan tersebut. Dokter Purnami menjelaskan bahwa pemeriksaan ini penting untuk menentukan jenis dan tingkat keparahan gangguan pendengaran.

Pengobatan dan Prognosis

Pengobatan awal tuli mendadak melibatkan pemberian steroid, baik melalui metode oral atau injeksi  intratimpani. Ini dilakukan untuk mengurangi peradangan dan memberikan kesempatan pada telinga untuk pulih. Penting untuk diingat bahwa semakin cepat tindakan diambil, semakin baik prognosisnya. Proses pemulihan dapat bervariasi, dan beberapa kasus dapat sembuh sepenuhnya.

Pencegahan dan Pola Hidup Sehat

Untuk mencegah tuli mendadak, dokter Purnami menyarankan menjaga pola hidup sehat, termasuk mengelola stres, menghindari paparan suara keras, dan menjaga kebersihan telinga. Selain itu, melakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala juga dapat membantu mendeteksi gangguan secara dini.

“Menggunakan headset ini ada polanya, anjurannya adalah 60 60. Yaitu dengan mengatur volume maksimal 60% dan tidak lebih dari 60 menit, diikuti dengan istirahat,” tutupnya.

Menyelami Tips dari Ahli Kesehatan –Menyelami Tips dari Ahli Kesehatan –

Dalam menghadapi bulan suci Ramadan yang akan segera tiba, pertanyaan seputar pengaturan konsumsi obat saat berpuasa menjadi topik yang menarik. Sebagai pembuka acara, Annetta d’Arqom, dr., M.Sc. Ph.D yang merupakan seorang staf pengajar Departemen Anatomi Histologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), menyampaikan pemahaman mendalamnya mengenai masalah ini. 

Sebelum memulai ibadah puasa, sangat penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama dokter yang menangani kondisi kesehatan Anda. Diskusikan rencana berpuasa dan ajukan pertanyaan terkait pengaturan jadwal dan dosis obat selama bulan Ramadan. Dokter dapat membantu menyesuaikan jadwal penggunaan obat sesuai dengan waktu sahur dan berbuka puasa. Hal ini membantu agar Anda tetap mendapatkan manfaat optimal dari obat tanpa mengganggu ibadah puasa. Mengingat berpuasa juga melibatkan menahan diri dari minum air, pastikan untuk menjaga kecukupan cairan saat berbuka. Minum air putih yang cukup dapat membantu proses metabolisme obat dalam tubuh dan mencegah dehidrasi.

Beberapa obat seperti tablet, kapsul, atau obat minum lainnya umumnya dapat diminum saat sahur atau berbuka puasa, selama sesuai dengan petunjuk dokter. Pastikan untuk tidak mengubah dosis atau jadwal tanpa persetujuan dokter. Jika obat yang Anda konsumsi seharusnya diminum bersama makanan, pertimbangkan untuk meminumnya sesaat sebelum berbuka puasa atau sesudah makan malam. Ini membantu menghindari potensi iritasi lambung.

Selama bulan puasa, perhatikan tubuh Anda dengan baik. Jika Anda mengalami gejala yang tidak biasa atau kondisi kesehatan memburuk, segera hubungi dokter Anda untuk mendapatkan saran lebih lanjut. Bagi penderita diabetes, perhatikan obat-obatan yang mengandung gula tambahan. Diskusikan dengan dokter mengenai alternatif yang lebih sesuai dengan kebutuhan glikemik Anda.  Untuk obat-obatan seperti inhaler atau obat yang tidak dikonsumsi secara oral, pastikan Anda dapat menggunakan perangkat tersebut tanpa membatalkan puasa. Dokter akan memberikan panduan sesuai dengan kebutuhan medis Anda.

 “Sebaiknya, jangan mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Keberlanjutan konsumsi obat harus tetap diawasi oleh tenaga medis agar kesehatan tetap terjaga selama menjalankan ibadah puasa. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih spesifik sesuai kondisi kesehatan masing-masing,” tutupnya.

Penulis : Kartika Devina Putri

Tips Melatih Anak Berpuasa Sejak Dini –Tips Melatih Anak Berpuasa Sejak Dini –

Pada bulan suci Ramadhan, setiap muslim diwajibkan untuk berpuasa. Disaat yang sama, ada beberapa golongan yang tidak diwajibkan untuk berpuasa, salah satunya adalah anak-anak. Oleh karena itu, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1444H, melalui program Dokter Edukasi di channel youtube Dokter Unair TV , Dr. Mira Irmawati, dr., Sp. A(K) akan memberikan edukasi seputar tips melatih anak untuk melaksanakan puasa sejak dini. 

Dokter Mira menyampaikan bahwa sudah merupakan sebuah hal yang umum bagi anak-anak untuk berpuasa. Beliau menjelaskan bahwa tubuh seorang anak sudah didesain untuk beradaptasi setiap memasuki suasana berpuasa, dimana respon tubuh yang pertama adalah mempertahankan kadar gula dalam tubuh dengan mengambil cadangan di hati. Singkatnya, ketika tidak ada asupan dari luar tubuh, maka tubuh kita akan mengkondisikan untuk mengambil dari cadangan yang lain, seperti lemak yang dibongkar untuk mempertahankan keadaan gula darah di dalam tubuh kita. Oleh karena itu, sebenarnya tidak masalah bagi anak-anak untuk berpuasa. Dengan demikian, dapat dikatakan juga bahwa tidak ada gangguan, baik terhadap pertumbuhan maupun perkembangan anak, ketika mereka menunaikan ibadah puasa selama nutrisi yang dikonsumsi ketika sahur dan buka puasa mencukupi. 

Kemudian, Dokter Mira juga menjelaskan bahwa memang ada beberapa hal yang harus diwaspadai ketika anak-anak melaksanakan puasa, seperti dehidrasi misalnya. Salah satu tanda awal dehidrasi adalah merasakan haus. Namun, merasakan haus ketika berpuasa adalah sesuatu yang wajar karena memang dalam kondisi berpuasa kita tidak minum yang juga menyebabkan berkurangnya frekuensi buang air kecil. Contoh dari tanda yang harus diwaspadai lainnya adalah ketika anak-anak tidur kemudian marah-marah dan terlihat lemas. Sesuai anjuran dari Dokter Mira, akan lebih baik apabila dibatalkan puasanya. Selain itu, ada beberapa kondisi lain dimana anak dianjurkan untuk tidak berpuasa, seperti pada jam minum obat dan anak-anak dengan gangguan metabolisme atau pertumbuhan. Intinya. tutur Dokter Mira, yang penting adalah gizi seimbang, yang disesuaikan dengan porsi aktivitas, untuk sahur dan buka puasa. 

Ada beberapa tips dari Dokter Mira untuk membuat anak mengonsumsi makanan dan minuman dengan gizi seimbang sesuai “Isi Piringku”. Pertama, berdasarkan pengalaman Dokter Mira sebagai ibu rumah tangga, anak-anak biasanya akan suka dengan makan-makanan yang menurut mereka menyenangkan. Misalnya, tampilan dari piring dan penyajiannya dibuat menarik. Jadi, tidak hanya sekedar nasi dari centong, tetapi juga dapat dibentuk menjadi bentuk tertentu, seperti bentuk bunga atau mobil-mobilan. Kedua, menggunakan istilah yang lebih “keren” bagi anak-anak. Contohnya, istilah ayam “krispy” lebih keren bagi anak-anak dibanding ayam goreng. Ketiga, menurut Dokter Mira, orang tua bisa menawarkan beberapa menu kepada anak dan anak akan memilih salah satu dari menu tersebut. Sebagai kesepakatan dari memilih menu tersebut, sang anak harus menghabiskan makanannya. Terakhir, untuk menambah keseruan sahur atau berbuka bagi anak sebagai bentuk upaya menaikkan nafsu makan, orang tua bisa mengakalinya dengan mengundang teman-teman dari sang anak untuk sahur atau berbuka bersama. 

Mendekati penghujung talkshow, Dokter Mira menekankan bahwa sudah sebaiknya orang tua mengajarkan praktik berpuasa kepada anak sejak dini karena puasa memiliki banyak manfaat, terutama dalam kesehatan. Akhir kata, Dokter Mira berpesan kepada para orang tua untuk mengkondisikan suasana yang menyenangkan sekaligus memberikan keleluasaan pada anak untuk mulai berpuasa sejak dini sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan nutrisinya. Harapannya adalah agar anak terlatih dan siap untuk menjalankan kewajibannya sebagai muslim di kemudian hari. 

Penulis: Titania Sophia Qelmi

Amankah Berpuasa Bagi Penderita Gangguan Lambung? –Amankah Berpuasa Bagi Penderita Gangguan Lambung? –

Tahukah kalian bahwa gangguan pada lambung ternyata memiliki prevalensi yang tinggi. Berdasarkan data WHO tahun 2015 ada sekitar 1,8 juta sampai 2,1 juta kasus gangguan pada lambung terjadi setiap tahunnya dengan jumlah penderita di Asia Tenggara mencapai angka 580.000. Hal tersebut tersebut tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat yang saat ini tengah menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. 

Menanggapi hal tersebut, Prof. Muhammad Miftahussurur, yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Wakil Rektor Universitas Airlangga bidang internasionalisasi digitalisasi dan informasi dari tahun 2020 menjelaskan bahwa gangguan pada lambung itu dalam istilah medis biasanya disebut dengan gastritis, yakni suatu peradangan yang terjadi di lambung yang biasanya dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang seperti USG, pemeriksaan endoskopi, ataupun patologi anatomi untuk menegakkan diagnosis. 

Kemudian Prof. Mifta juga menuturkan mengenai gejala, tatalaksana, hingga kompllikasi yang dapat timbul akibat adanya gangguan pada lambung. Gangguan lambung dalam dunia medis terbagi menjadi beberapa macam dan hal ini perlu untuk diketahui agar dapat dibedakan sejak awal karena nantinya akan menentukan bagaimana terapi yang akan dilakukan selanjutnya. Prof. Mifta melalui program edukasi Ramadhan melalui Dokter Unair TV, Jumat (21/04/2023), menjelaskan beberapa perbedaan dari masing-masing jenis gangguan lambung, “Gastritis itu keluhannya bisa seperti mual muntah perut terasa penuh atau nyeri pada daerah kiri atas atau ulu hati, lalu pada radang lambung atau gastritis itu sendiri kita harus membedakan dulu ini infeksi atau bukan dan juga pengontrolan terkait asam lambung itu sendiri, tetapi kalau tentang Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kita mengatur tentang keasaman lambung dan pada penderitanya biasanya keluhan yang terbanyak bisa batuk lama atau batuk kronis ataupun rasa terbakar di dada”. 

Untuk tatalaksana gangguan pada lambung itu sendiri bergantung pada ada tidaknya alarm symptom lalu alarm symptom tadi mengatur tentang seberapa dini keperluan untuk melakukan endoskopi ataupun pemeriksaan biopsi patologi anatomi. Prof. Mifta juga mengimbau hendaknya masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan gejala gangguan lambung karena jika dibiarkan dapat menimbulkan komplikasi, seperti keganasan pada kerongkongan atau kanker esofagus mataupun keganasan pada lambung atau kanker lambung. 

Apakah seseorang itu aman untuk melakukan puasa ketika dirinya terdiagnosis gangguan pada lambung? Menjawab pertanyaan tersebut Prof. Mifta menerangkan mengenai hasil penelitian yang menyatakan justru berpuasa bermanfaat bagi penderita gangguan lambung khususnya penderita dispepsia fungsional. Mengapa? Karena hidupnya bida jadi lebih teratur, pola makannya jadi teratur, tidurnya juga teratur, dan pada saat-saat tertentu juga pengaturan tidurnya sesuai dengan metabolisme tubuhnya.  

Pada akhir sesi, Prof. Mifta menutup diskusinya dengan membagikan tiga tips utama agar puasa aman. Pertama, pengaturan dari obat yang diminum oleh penderita. Kedua, pengaturan makanan seperti memilah mana makanan yang sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi karena justru menambah gas dan menambah perasaan sebah atau tidak nyaman di lambung. Ketiga atau terakhir,  dengan konsumsi cairan yang cukup. 

Penulis: Nabila Aristawati 

Panduan Praktis dari Dr. Sri Umijati dr. MS bersama DokterUnairTV –Panduan Praktis dari Dr. Sri Umijati dr. MS bersama DokterUnairTV –

Halo sahabat DokterUnairTV! Berpuasa merupakan praktik ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim, terutama di Indonesia, yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Dalam praktik berpuasa, tubuh mengalami sejumlah perubahan yang perlu diperhatikan agar kesehatan tetap terjaga. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa aspek terkait dengan berpuasa dan dampaknya pada kondisi tubuh. Mari kita eksplorasi lebih dalam panduan kesehatan dari Dr. Sri Umijati dr. MS untuk menjalani ibadah puasa dengan sehat dan nyaman.

1. Tubuh Berubah Saat Berpuasa: Persiapkan Diri dengan Baik!

Ketika kita memulai puasa, tubuh mengalami serangkaian perubahan untuk beradaptasi dengan pola makan yang berbeda. Salah satu perubahan yang umum dialami adalah penurunan produksi saliva, yang dapat menyebabkan mulut terasa kering. Hal ini biasanya terjadi karena kita tidak minum air selama beberapa jam. Selain itu, produksi asam lambung juga cenderung berkurang, membuat beberapa orang mungkin mengalami perasaan lambung kosong atau keroncongan.

Meskipun demikian, tidak perlu khawatir, karena tubuh kita memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Untuk membantu mengatasi mulut kering, disarankan untuk mengonsumsi air putih yang cukup saat berbuka dan sahur.

2. Menu Makan yang Bijak Saat Berbuka dan Sahur

– Minuman: Penting untuk memastikan kita cukup minum air putih, setidaknya 8 gelas sehari. Hindari minuman bersoda, teh, dan kopi, yang dapat menyebabkan dehidrasi. Jika Anda ingin variasi, air kelapa atau jus buah alami bisa menjadi alternatif yang menyegarkan.

– Makanan: Pilih makanan yang seimbang, mencakup karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat. Karbohidrat kompleks, seperti roti gandum atau nasi merah, memberikan energi bertahap, menjaga kadar gula darah tetap stabil. Kurangi konsumsi makanan berlemak dan terlalu manis, serta tambahkan sayuran segar untuk mendukung asupan serat dan nutrisi yang baik.

3. Pola Makan yang Tepat untuk Kenyamanan Lambung

Bagi teman-teman yang memiliki riwayat masalah lambung seperti GERD, menjaga pola makan menjadi kunci utama. Hindari makanan pedas, berlemak, dan terlalu asam, karena dapat meningkatkan risiko iritasi lambung. Makan dalam porsi kecil tapi sering dapat membantu mengurangi tekanan pada lambung. Jangan lupa untuk memberi jeda antara makan dan waktu tidur agar pencernaan berjalan lebih lancar.

4. Puasa sebagai Peluang Menurunkan Berat Badan dengan Sehat

Selain sebagai bentuk ibadah, berpuasa juga dapat menjadi kesempatan untuk menurunkan berat badan dengan sehat. Penting untuk tetap memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi. Pilihlah makanan yang memberikan rasa kenyang lebih lama, seperti nasi merah, kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Perlahan-lahan mengganti camilan tidak sehat dengan buah-buahan atau kacang-kacangan juga bisa menjadi pilihan yang baik.

5. Menu Sehat untuk Berbuka dan Sahur yang Lezat

– Berbuka: Cobalah untuk mengonsumsi buah-buahan segar, air putih, dan camilan sehat seperti kurma atau kacang. Jangan lupa untuk menambahkan protein, misalnya dengan mengonsumsi telur rebus atau yogurt, agar kenyang lebih lama.

– Sahur: Pastikan menu sahur mengandung makanan yang memberikan energi tahan lama. Nasi, sayuran, buah-buahan, dan sumber protein seperti telur atau ikan dapat menjadi pilihan yang baik. Hindari makanan yang terlalu asin atau berlemak yang dapat menyebabkan rasa haus selama puasa.

6. Minuman Isotonik atau Air Putih?

Minuman isotonik bisa menjadi pilihan untuk menggantikan elektrolit yang hilang, terutama jika kita aktif bergerak atau berolahraga. Meskipun demikian, air putih tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Pastikan untuk minum air secara teratur, terutama saat berbuka dan sahur.

Kesehatan Anda adalah Prioritas Utama

Ingatlah, kesehatan adalah aset berharga yang perlu dijaga. Setiap individu memiliki kebutuhan kesehatan yang unik, oleh karena itu, jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu atau pertanyaan lebih lanjut, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Semoga artikel ini bermanfaat untuk menjalani bulan Ramadhan dengan penuh kesehatan dan kebahagiaan. Selamat berpuasa! ????????

Penulis: Arin Nahda Zhafira

Kekerasan Seksual di Kalangan Remaja –Kekerasan Seksual di Kalangan Remaja –

Kekerasan seksual remaja di Indonesia dapat diumpamakan sebagai gunung es. Ada banyak kasus kekerasan tetapi hanya sedikit yang tampak bahkan sebagian besarnya tenggelam tanpa ditindaklanjuti. Fenomena gunung es ini terjadi salah satunya karena stigma negatif yang menyelubungi kasus kekerasan seksual, menyebabkan para korban yang masih remaja takut dan memilih berdiam diri atau bahkan ‘dibungkam’ oleh orang-orang di sekitarnya.

Dr. Yunias Setiawati, dr., Sp.KJ (K), FISCM, membahas mengenai kasus kekerasan seksual remaja dan anak melalui Dokter UNAIR TV. “Kekerasan seksual (pada anak) adalah segala aktivitas seksual yang melibatkan anak pada usia 0-18 tahun yang merugikan anak dengan tujuan sebagai kesenangan pelaku, dapat secara langsung maupun tidak langsung.” terang dr. Yunias dalam siaran Dokter UNAIR TV (21/07/2023).

Pelaku kekerasan seksual tidak memandang gender maupun peran sosial. Pelaku kekerasan seksual pada anak bisa datang dari orang-orang terdekat seperti, ayah, ibu, paman, kakek, teman, dan orang lain yang sepatutnya menjadi perlindungan bagi anak. Hal ini lah yang menjadi salah satu faktor semakin banyak korban kekerasan seksual yang takut untuk melapor.

Hal ini menyisakan trauma yang mendalam pada anak, menyebabkan perasaan tidak percaya diri, phobia terhadap lawan jenis, self harm, prestasi belajarnya buruk, cenderung menarik diri dari lingkungan dosial yang tidak jarang menyebabkan dirinya dikucilkan. Tidak hanya trauma secara mental, trauma pada fisik pun sering dijumpai pada korban kekerasan seksual seperti luka-luka, penyakit menular seksual, resiko kehamilan, dan gangguan neurodevelopmental yang akan berdampak pada perkembangan karakter dan fisik anak.

Dampak berat yang ditinggalkan dari kekerasan seksual merupakan suatu hal yang tidak mudah untuk dihilangkan. Maka dari itu, pentingnya pertolongan dan perlindungan terhadap korban sedini mungkin untuk mencegah dampak yang lebih besar lagi pada anak. Pertolongan yang diberikan dapat berupa dengan membawa korban ke psikiater, ke tempat yang lebih aman, melaporkan pelaku, dan  memberi dukungan penuh pada korban.

Penulis : Diana Annabelle Situmorang

Mengenal Penyakit Limfoma pada Adneksa Mata yang Perlu Diwaspadai –Mengenal Penyakit Limfoma pada Adneksa Mata yang Perlu Diwaspadai –

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bersama dengan RSUD Dr.  Soetomo bekerjasama membuat suatu inovasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait kesehatan. Inovasi ini menyediakan informasi terkait beragam penyakit yang mungkin dialami oleh manusia, beberapa tips untuk mencegahnya, juga tips-tips kesehatan lainnya. 

Dokter Unair TV, suatu inovasi karya para dokter untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait kesehatan. Dokter Unair TV menyajikan informasi kesehatan yang dikemas dalam bentuk video talkshow bersama dokter spesialis yang tentunya sesuai dengan topik bahasan. Dokter Unair TV mengunggah satu episode setiap pekan. Diharapkan dengan adanya video edukatif yang terbit setiap pekannya, banyak dari masyarakat digital dapat menyaksikan dan mengaplikasikan apa yang disampaikan didalam video. 

Pada episode tanggal 22 September 2023, Dokter Unair TV menyajikan informasi mengenai limfoma adneksa mata. Dokter Delfitri Lutfi, dr, Sp.M (K), dan Dokter Putu Niken Ayu, dr, Sp.PD-KHOM, FINASIM. diundang sebagai narasumber pada episode ini. Dokter-dokter tersebut merupakan staff pengajar di Fakultas Kedokteran Unair dan RSUD Dr. Soetomo.

Limfoma adneksa mata adalah suatu kanker ganas dari jaringan limfatik mata. Pada organ penglihatan terdapat dua bagian yaitu bola mata dan adneksa (aksesori/penunjang) mata, sehingga limfoma dapat terjadi pada keduanya. Kasus ini seringkali terjadi pada manusia usia 50 hingga 70 tahun dan seringkali terjadi pada wanita. Gejala dari limfoma adneksa mata dapat berupa pembesaran kelenjar getah bening. 

Gejala yang timbul dapat mengganggu penglihatan serta menjadi suatu tanda kemungkinan adanya kanker di bagian tubuh lain mengingat jaringan limfatik berada di seluruh bagian tubuh sehingga apabila ada kelainan di satu bagian, memungkinkan untuk kelainan tersebut menyebar. Salah satu tanda atau gejala dari limfoma adneksa mata yaitu memerahnya bola mata yang biasa disebut dengan salmon patch karena pembesaran pembuluh dara pada bola mata.

Beberapa faktor resiko terjadinya limfoma yaitu :

  1. Usia. Limfoma lebih sering terjadi pada lansia diatas 60 tahun.
  2. Jenis kelamin. Limfoma lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita.
  3. Riwayat pengobatan. Seseorang yang pernah menerima pengobatan kanker akan lebih rentan mengalami limfoma.
  4. immunocompromised/autoimmune. Seseorang dengan sistem imun yang lemah akan lebih rentan mengalami penyakit dan kelainan pada tubuh.
  5. Riwayat keturunan. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan keganasan/kanker lebih rentan mengalaminya juga.
  6. Infeksi. Para dokter masih meneliti untuk mendapatkan bukti dan memastikan apakah infeksi virus dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami keganasan/kanker.

Beberapa cara untuk mencegah terjadinya kanker atau limfoma yaitu dengan pola hidup sehat. Tidak mengonsumsi makanan dengan pengawet, menjaga kesehatan fisik dan mental, juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kelainan di tubuh kita. Apabila menemui atau merasakan adanya gangguan fungsi anggota tubuh, maka disarankan untuk segera memeriksakan kepada dokter atau ahli. Hindari intervensi atau tindakan seperti mengucek mata, atau sering menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan fungsi. Deteksi dini sangat membantu dan meningkatkan keberhasilan pengobatan/terapi. Jaga kesehatan mata dan waspada terhadap gangguan fungsinya.

Dokter UNAIR TV Edukasi Inovasi Wolbachia Dalam Upaya Menurunkan Angka Demam Berdarah Dengue (DBD) –Dokter UNAIR TV Edukasi Inovasi Wolbachia Dalam Upaya Menurunkan Angka Demam Berdarah Dengue (DBD) –

Dokter UNAIR TV kembali menggelar siniar melalui akun YouTube resminya pada Jumat (22/12/2023). Dalam Dokter Edukasi itu, Dokter UNAIR TV mengusung tema Mengenal Inovasi Wolbachia Dalam Upaya Menurunkan Angka Demam Berdarah Dengue (DBD).

Guna memberikan edukasinya, kali ini Dokter UNAIR TV menghadirkan Dr. dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, M. Si, M. Ked.Klin, Sp. MK(K) dan dr. Tri Pudy Asmarawati, Sp.PD, K-PTI, FINASIM sebagai narasumber yang merupakan staff pengajar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo.

Dengue masih menjadi masalah di Indonesia. Di tahun 2023, tercatat ada 76.449 kasus dengue dengan 571 kasus kematian. Karenanya perlu berbagai inovasi dilakukan untuk menekan penyebaran dengue terutama menekan angka kematian sekaligus mempercepat target eliminasi dengue tahun 2030. 

Salah satu inovasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan penularan dengue adalah dengan menerapkan teknologi nyamuk ber-wolbachia. Teknologi ini pada prinsipnya memanfaatkan bakteri alami Wolbachia yang banyak ditemukan pada 60% serangga. Bakteri itu selanjutnya dimasukkan dalam nyamuk aedes aegypti, hingga menetas dan menghasilkan nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia. Dengan demikian, perlahan populasi aedes aegypti berkurang dan berganti menjadi nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia.

Dokter Agung mengatakan bahwa “Wolbachia dapat menekan populasi nyamuk cara kerjanya yaitu dengan menghambar reproduksi dari nyamuk sehingga jika  nyamuk jantan dan nyamuk betina yang terinfeksi bertemu maka tidak akan menghasilkan telur sehingga populasi dapat turun secara drastis”

Lebih lanjut, dokter Agung mengungkapkan bahwa selain mensupresi, dia akan mengganti populasi nyamuknya dengan populasi nyamuk-nyamuk yang telah terinfeksi, nyamuk betina yang terinfeksi akan menghasilkan akan menghasilkan anak dari telur yang terinfeksi berupa nyamuk jantan dan betina yang terinfeksi sehingga populasi akan berganti atau terjadi replacement dengan nyamuk yang mengandung wolbachia sehingga dapat mensupresi jumlah nyamuk aedes aegypti 

“Pelepasan nyamuk sebelumnya sudah dicoba dilakukan penelitian di Yogya mengenai pelepasan nyamuk yang terinfeksi walbochia, dan hasil penelitianpun menggambarkan bahwa pada daerah yang dilepaskan nyamuk walbochia angka kejadian demem berdarah dapat menurun hingga 77%” jelas dokter Tri Pudy