Uji Klinis Acak Multisenter Mengenai Penggunaan Pravastatin untuk Mencegah Preeklampsia pada Wanita Hamil Berisiko Tinggi Preeklampsia

Uji Klinis Acak Multisenter Mengenai Penggunaan Pravastatin untuk Mencegah Preeklampsia pada Wanita Hamil Berisiko Tinggi Preeklampsia post thumbnail image


sumber foto : berkeluarga.id

sumber : https://www.unair.ac.id/2022/07/01/uji-klinis-acak-multisenter-mengenai-penggunaan-pravastatin-untuk-mencegah-preeklampsia-pada-wanita-hamil-berisiko-tinggi-preeklampsia/

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang menjadi salah satu penyebab terbanyak kematian ibu dan janin di seluruh dunia. Sindroma ini terjadi pada 2-8% kehamilan. Sampai saat ini terapi definitif preeklampsia adalah dengan melahirkan janin dan plasenta. Sedangkan penelitian mengenai metode atau obat-obatan untuk pencegahan preeklampsia juga terus berjalan. Pada praktik klinis yang berlaku saat ini, pencegahan preeklampsia dilakukan dengan pemberian aspirin dosis rendah dan kalsium. Kami melakukan studi multisenter ini untuk mencari apakah ada agen tambahan yang bisa diberikan untuk meningkatkan efisiensi pencegahan preeklampsia, khususnya pada wanita berisiko tinggi. Kami menggunakan pravastatin sebagai obat tambahan selain aspirin dan kalsium. Pravastatin memiliki efek pleiotropik yang dapat melawan patogenesis preeklampsia, seperti efek imunomodulasi, anti inflamasi, perlindungan terhadap stres oksidatif dan proliferasi otot polos. Selain itu pada studi kami sebelumnya menunjukkan bahwa pravastatin dapat menormalkan kadar marker sFlt-1 (soluble FMS-like tyrosine kinase) dan PlGF (Placental Growth Factors) di darah ibu, yang merupakan dua faktor utama terjadinya preeklampsia. Kami mengadakan penelitian multisenter ini untuk mengevaluasi peran pravastatin dalam pencegahan preeklampsia pada ibu hamil.

Penelitian ini dikerjakan di 4 Rumah sakit di 3 kota besar (RS Universitas Airlangga, RSUD Dr. Soetomo [Surabaya], RS Hasan Sadikin [Bandung], dan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo [Makassar]) dari tahun 2017-2021. Ibu hamil dengan risiko tinggi preeklampsia (yang diskrining melalui metode standar) direkrut dan dirandomisasi ke dalam kelompok kontrol dan intervensi. Kelompok kontrol mendapatkan terapi aspirin (80 mg/hari) dan kalsium (1 g/hari), sedangkan kelompok intervensi mendapat terapi yang sama dan ditambah pravastatin (2 x 20 mg/hari) yang dimulai sejak usia kehamilan 14-20 minggu. Kemudian pasien diikuti sampai persalinan dan diambil luaran kehamilan (terjadinya preeklampsia) sebagai hasil utama penelitian.

Total 173 wanita berpartisipasi pada penelitian ini, dengan 86 pada kelompok kontrol dan 87 pada kelompok intervensi. Kelompok intervensi memiliki kejadian preterm preeklampsia (13.8 vs 26.7%; p=0.034; OR=0.034) dan persalinan preterm (16.1 vs 36%; p=0.003; OR= 0.34) yang lebih rendah secara signfikan dibandingkan kelompok kontrol. Preeklampsia terjadi lebih lambat pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol (usia kehamilan: 36.39 + 2.32 vs 34.89 + 3.38 minggu; p=0.048). Secara umum kelompok intervensi memiliki luaran perinatal yang lebih baik. Janin lahir dengan skor Apgar < 7 pada menit 1 dan menit 5 didapatkan lebih sedikit pada kelompok intervensi. Selain itu, angka kejadian bayi berat lahir rendah (<2500 gram) juga lebih rendah pada kelompok intervensi dibandingkan kontrol (27.6 vs 40.7%; p=0.069).

Studi ini menunjukkan bahwa pemberian pravastatin (2 x 20 mg/hari) tambahan selain aspirin dan kalsium dapat menurunkan risiko preterm preeklampsia dan persalinan preterm pada ibu hamil yang berisiko tinggi mengalami preeklampsia.

Penulis: Muhammad Ilham Aldika Akbar, dr.,Sp.OG

Link: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35292944/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

Pentingnya Vitamin D pada Anak dengan Sindrom Down –Pentingnya Vitamin D pada Anak dengan Sindrom Down –

Sindrom Down merupakan kondisi genetik yang berasal dari ketidaknormalan pada kromosom manusia. Orang yang mengidap sindrom ini umumnya menghadapi sejumlah tantangan terkait kesehatan, yang mencakup perbedaan dalam perkembangan fisik dan mental dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki sindrom ini. Belakangan ini, fokus penelitian telah mengungkap kemungkinan peran Vitamin D dalam