Tag: Workshop

Peduli Difabel, Alumni dan FK UNAIR Gelar Workshop Pelayanan Kesehatan InklusifPeduli Difabel, Alumni dan FK UNAIR Gelar Workshop Pelayanan Kesehatan Inklusif

UNAIR NEWS – “Bagi mereka (orang-orang difabel, terutama difabel ganda) dunia hanya sebatas jangkauan tangan mereka. Tugas kita adalah menunjukan kepada mereka bahwa dunia luas dan membuat mereka dapat ‘melihat’ dunia.”, terang Bu Masfufah kepada peserta workshop. Ironisnya, masih sangat jarang institusi-institusi kesehatan yang mengadakan pelatihan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk populasi difabel.

Tidak bisa dipungkiri, pasien difabel, terutama dalam pembahasan kali ini adalah pasien tuli, sering dimarginalisasikan secara tidak sadar dalam pelayanan kesehatan. Sebagai contoh umumya pelayanan kesehatan terhadap pasien difabel dirasa kurang memenuhi standar (substandard). Pelayanan substandard yang terjadi pada dasarnya tidak pernah diniatkan, melainkan karena kurangnya komunikasi efektif antara tenaga kesehatan dan pasien difabel. Kondisi ini pada dasarnya dapat diatasi dengan penyediaan juru bahasa isyarat pada fasilitas pelayanan kesehatan. Akan tetapi, jumlah juru bahasa isyarat yang tersedia ternyata sangat tidak sebanding dengan rasio populasi orang bisu dan/atau tuli. Di Pulau Jawa saja, terdapat kurang lebih 250.000 orang tuli dengan penerjemah isyarat hanya 34. Bisa dibayangkan, tanpa pengalaman dan pemahaman terkait dunia tuli, miskomunikasi akan sangat mungkin terjadi antara tenaga kesehatan dan pasien bisu atau tuli.

Mengingat pentingnya pelatihan pelayanan kesehatan terhadap pasien difabel, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Angkatan 2015 (CORNEA) berkolaborasi dengan FK UNAIR untuk mengadakan workshop pelayanan terhadap pasien difabel. Acara bertajuk “Melayani Teman Tuli dengan Hati” yang dilaksanakan pada Ahad, 19 Desember 2021 ini diikuti oleh puluhan peserta dari 17 kota di Indonesia dengan berbagai latar belakang profesi bidang kesehatan.

Workshop tersebut dibuka oleh Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL (K) dengan pemaparan terkait gangguan bicara dan pendengaran serta urgensi tenaga kesehatan mempelajari bahasa isyarat dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien tuli. Pada mayoritas pasien, kondisi tuli merupakan kondisi yang didapat sejak lahir. Hal ini dapat berupa genetik maupun non-genetik seperti infeksi virus rubella. Anak dengan riwayat keluarga tuli memiliki resiko tuli lebih tinggi dari anak tanpa riwayat keluarga tuli.

Pengenalan dini anak dengan tanda-tanda gangguan pendengaran dan gangguan bicara baik oleh orang tua maupun tenaga kesehatan dapat mengurangi keparahan dan meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan. Sebagai contoh, jika anak terlihat tidak merespon ketika ada suara-suara di sekitarnya, orang tua perlu waspada akan kemungkinan adanya gangguan pendengaran pada anak. Saat masih kecil, otak masih plastis sehingga dapat diberikan terapi yang tepat untuk mengurangi keparahan kondisi tuli anak dan memaksimalkan indera yang lain. Harapannya, sang anak dapat menjalani hidup selayaknya orang normal di masa dewasa nanti. “Prinsipnya, semakin cepat ditangani semakin bagus kondisi anak” ungkap dr. Nyilo Purnami. Selain itu, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan pasien tuli untuk dapat mendengar dengan alat bantu dengar atau implan.

Anak dan orang difabel memiliki hak yang sama dalam pelayanan kesehatan namun seringkali terabaikan. Semisal pasien anak bisu atau tuli akan sangat kasihan jika tiba-tiba diberi obat atau disuntik tanpa persetujuan mereka, sekalipun dengan pengobatan yang benar. Mereka sebenarnya bisa mempelajari ketika mereka sakit mereka akan dibawa ke dokter diobati dan mungkin disuntik. “Hal tersebut juga diajarkan di sekolah khusus dengan memberikan penjelasan melalui berbagai barang-barang yang berkaitan seperti stetoskop dan suntik”, ujar Bu Masfufah, lulusan kursus leadership untuk anak-anak difabel Massacuchets, USA.

Ketika menemui pasien difabel, tenaga kesehatan seyogyanya memperkenalkan tentang tindakan yang akan dilakukan sebab anak-anak difabel belajar secara alamiah. Ketika anak-anak difabel diberikan pelajaran tata cara buang air kecil yang benar di kelas, maka mereka akan mampu melakukan buang air kecil dengan benar namun mereka akan melakukannya di kelas atau sembarang tempat. Namun ketika mereka diberikan pelajaran buang air kecil ketika mereka merasakan keinginan untuk buang air kecil dan langsung diajarkan di kamar mandi, maka anak-anak akan mengingatnya, dan sekali ingat anak-anak difabel akan sangat disiplin. Hal itu juga yang sebaiknya dipraktikkan oleh tenaga kesehatan ketika melayani pasien difabel.

Di akhir sesi, workshop ditutup dengan pelatihan BISINDO Dasar dalam pelayanan kesehatan. Pelatihan Bahasa isyarat BISINDO diajarkan melalui praktik interaktif bersama pengajar BISINDO dari Komunitas Arek Tuli Surabaya.. Peserta dibagi ke dalam dua breakout room yang berbeda dan setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk mempraktekan pelajaran dan dikoreksi oleh pengajar bahasa isyarat.

“Belajar bersama dengan keadaan yang menyenangkan akan lebih mudah diingat. Saya sudah belajar BISINDO dari Youtube, namun saya langsung hafal ketika belajar bersama seperti ini. Terimakasih, semoga semakin sering ada acara seperti ini”, ungkap Dwi Ayu, salah satu peserta workshop dalam borang evaluasi yang disediakan panitia.

Workshop pelayanan kesehatan terhadap pasien difabel merupakan salah satu wujud kepedulian Alumni FK UNAIR dan UNAIR terhadap populasi orang berkebutuhan khusus. FK UNAIR dan seluruh civitas akademika bertekad memberikan pelayanan kesehatan berbasis inklusif. Koordinator kegiatan, Husada Tsalitsa Mardiansyah mengungkapkan “Kami akan mencoba menindaklanjuti kegiatan ini dalam bentuk pengabdian masyarakat, penelitian dan mengajukan usulan materi pelayanan kesehatan inklusif sebagai salah satu bagian dari kurikulum FK UNAIR, InsyaAllah. Mohon doanya,” ungkapnya.

Penulis: Pandit Bagus Tri Saputra dan Dinda Dwi Purwati

Workshop “SEPSIS IN CRITICALLY-ILL PATIENTS”Workshop “SEPSIS IN CRITICALLY-ILL PATIENTS”

Sepsis merupakan penyebab pada 20% dari total seluruh kematian di dunia, dengan negara berkembang menyumbang sebanyak 85% dari angka tersebut. Departemen Anestesiologi dan Reanimasi Universitas Airlangga serta Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif, bekerja sama dengan Aesculap Academy, telah mengadakan Workshop “Sepsis in Critically-ill Patients” pada tanggal 6-7 Agustus 2022 di RS Universitas Airlangga, dengan sasaran peserta didik Spesialis dan Subspesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif.

Acara ini dipandu oleh Master of Trainer, Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., didampingi oleh Bambang Pujo Semedi, dr., Sp.An., KIC., sebagai course director. Dalam workshop ini dibahas pedoman terbaru tatalaksana sepsis, terapi cairan, hemodinamik, akses pembuluh darah sentral, ventilator, hingga pemberian nutrisi. Tidak hanya itu, dalam acara ini juga diadakan diskusi kasus riil yang dibawakan oleh Kun Arifi Abbas, dr., Sp.An., KIC., dan Dr. Prihatma Kriswidyatomo, dr., Sp.An., mengenai penanganan sepsis pada pasien COVID-19 dengan penggunaan alat extracorporeal membrane oxygenation (ECMO).

Dalam workshop ini peserta juga diberikan kesempatan untuk melatih keterampilan mengoperasikan ventilator pada pasien kritis, pemasangan akses pembuluh darah sentral, dan cara untuk melakukan monitoring hemodinamik tingkat lanjut, yang dipandu oleh Dr. Christrijogo Sumartono, Sp,An., KAR., KIC., Teuku Aswin Husain, dr., Sp.An., KAKV., dan Soni Sunarso Sulistyawan, dr., Sp.An., FIPM., KMN.

Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan dapat memacu peserta untuk terus mengasah kemampuan dalam penanganan menangani sepsis.

Neurologi FK UNAIR Mengadakan Workshop NeurorestorasiNeurologi FK UNAIR Mengadakan Workshop Neurorestorasi

Neurologi FK UNAIR mengadakan workshop neurorestorasi pada tanggal 5 agustus 2022 yang merupakan rangkaian acara dari Continuing Neurologi Education 2022 yang bertempat di hotel JW Marriot. Neurorestorasi merupakan layanan untuk pemulihan sistem saraf yang rusak akibat adanya gangguan sistem saraf (contohnya: serangan stroke). Neurorestorasi meliputi proses pembentukan neuron baru (neurogenesis), vaskularisasi baru (angiogenesis), dan hubungan antar neuron yang baru (sinaptogenesis). Workshop ini dihadiri oleh para dokter umum dan juga dokter spesialis saraf, dimana materi tidak hanya disampaikan oleh para neurolog kebanggaan UNAIR seperti dr. Deby Wahyuning Hadi Sp.N (K) dan dr. Fadil Sp.N (K), tetapi juga pembicara lain yang sangat kompeten di bidangnya yaitu dr. Riska Fathoni Perdana Sp.THT-KL (K), dr. Amanda Tiksnadi Sp.N (K), PhD dan bapak Ujang Salim, AmdTw, SKM selaku terapis.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Fadil Sp.N (K) mengenai neuroanatomi, physiology dan neurophysiology aspek pada dysphagia. Kemudian materi selanjutnya oleh dr Riska Fathoni Sp.THT-KL (K) mengenai “Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES) pada Disfagia Orofaring”, beliau tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga memperagakan endoscopy pada saat workshop. Materi berikutnya oleh dr. Deby Wahyuning Hadi Sp.N (K) yaitu “Updates and Experimental Approach for Treating Dysphagia”.  Setelah menyampaikan materi beliau memperagakan pemeriksaan tDCS serta peserta diberi kesempatan untuk hands on. dr. Amanda Tiksnadi Sp.N (K) menyampaikan materi yang tidak kalah menarik yaitu “The Role of Brain Stimulation in Dysphagia”, dan bapak Ujang Salim, AmdTw, SKM memberikan materi dan hands on mengenai stimulasi manual dan pemeriksaan pada pasien dengan gangguan menelan.

Workshop ini sangat bermanfaat terutama bagi para dokter agar lebih dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang neurorestorasi terutama untuk memeriksa dan memberikan terapi pada pasien dengan disfagia.

Tendik dan Mahasiswa FK UNAIR Ikuti Workshop Kepenulisan Berita Fakultas dan Optimalisasi SEO Oleh PKIP UNAIRTendik dan Mahasiswa FK UNAIR Ikuti Workshop Kepenulisan Berita Fakultas dan Optimalisasi SEO Oleh PKIP UNAIR

Kemampuan untuk menulis merupakan skill yang sangat dibutuhkan di abad 21. Oleh sebab itu Pada hari Selasa, (16/8/2022) Pusat Komunikasi dan Informasi Publik (PKIP)  Universitas Airlangga menyelenggarakan kegiatan Workshop Kepenulisan Berita Fakultas dan Sekolah serta optimalisasi SEO di Lingkungan Universitas Airlangga. Kegiatan yang dilaksanakan di Labkom HG 1 Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus C UNAIR ini diikuti oleh para staf ataupun kontributor penulis dari masing-masing fakultas di UNAIR. Dalam hal ini, FK UNAIR diwakili oleh Hanif Ibrahim dan Hanifah Nurudina, Mahasiswa FK Unair dan Ismail Choiriyah, tenaga pendidik humas FK UNAIR.

Kegiatan pelatihan ini, diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Muhammad Noor Fakhruzzaman, S.Kom., M.Sc., selaku koordinator website PKIP. Dalam sambutannya, Ia menyampaikan bahwa dengan adanya kegiatan ini diharapkan tiap-tiap perwakilan fakultas dapat menulis dengan lebih baik sehingga tulisan yang dihasilkan dapat mudah dibaca dan mudah ditemukan melalui mesin pencarian. Tak hanya itu, Ia juga berharap, pelatihan ini dapat memperbaiki kualitas berita yang dihasilkan agar dapat mem-branding UNAIR dengan lebih baik.

Terdapat serangkaian acara pada kegiatan pelatihan oleh PKIP UNAIR. Pertama, pemaparan materi mengenai penulisan berita yang disampaikan oleh Tommy Cahya Gutomo. Kedua, penyampaian materi mengenai konten SEO Friendly yang disampaikan oleh Erma Parasatia Desinta. Dalam penyampaiannya, Erma menyatakan bahwa SEO memiliki kedudukan dan manfaat yang penting agar konten yang ditulis berada di halaman teratas dalam mesin pencarian. Selanjutnya, dilakukan praktik menulis dengan menggunakan SEO yang dipandu langsung oleh Erma.

Kedepannya diharapkan website FK Unair mampu semakin berkembang, baik melalui jumlah tulisan maupun kualitas pemberitaan sehingga mendukung Universitas Airlangga untuk berkiprah di tingkat dunia.

Penulis : Maulana Hanif

Divisi Nyeri Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNAIR Mengadakan Workshop Perioperative Pain ManagementDivisi Nyeri Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNAIR Mengadakan Workshop Perioperative Pain Management

Pengelolaan yang tidak adekwat terhadap nyeri berakibat penderitaan pasien dan kehilangan produktivitas kerja yang luar biasa besarnya. Selain itu, Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan manajemen nyeri semakin tinggi menuntut PPDS Sp1 Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNAIR-RS Dr. Soetomo untuk memberikan manajemen nyeri dengan baik. Divisi Nyeri Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif mencoba memenuhi kebutuhan tersebut dengan memberikan workshop “Perioperative Pain Management” kepada PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif dari seluruh Indonesia.

Workshop ini diadakan pada tanggal 13-14 Agustus 2022, membahas seluruh aspek nyeri perioperatif; baik nyeri sebelum pembedahan, saat dilakukan pembedahan, dan nyeri pascabedah, oleh Divisi Nyeri Departemen Anestesiologi dan Reanimasi FK Universitas Airlangga, yang diikuti oleh PPDS Sp1 Anestesiologi dan Terapi Intensif di Indonesia. Diawali dengan pembukaan oleh Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., Sp.An., KIC selaku Kepala Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, workshop ini dibawakan oleh narasumber yang ahli pada bidang nyeri yaitu dr. Herdy Sulistyono, Sp.An, KIC, KMN, Pallmed dr. Herdiani Sulistyo P., Sp.An., FIP., dr. Belindo Wirabuana, Sp.An., FIP., KMN., dr. Soni Sunarso S., Sp.An., KMN., FIPM dan Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp.An., KNA., KMN. Materi-materi yang disampaikan pada sesi workshop kali ini meliputi Definisi Nyeri Perioperatif, Mekanisme Nyeri Akut Paska Bedah, Penatalaksanaan Nyeri Perioperatif, Opioid dan NSAID, Other Drugs and Multimodal Analgesia, Patiens-Controlled Analgesia, dan Regional Analgesi dan Blok Infiltrasi. Materi-materi tersebut merupakan materi yang sangat aplikatif sehingga para PPDS dapat menerapkan saat bertugas menghadapi pasien di lapangan.

Dengan diadakannya acara ini, diharapkan para PPDS dapat memberikan penanganan nyeri dengan komprehensif, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien. (Prananda)

Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNAIR Adakan Workshop Intervensi Nyeri Jadikan PPDS Lebih Terampil Menangani Nyeri PerioperatifDepartemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNAIR Adakan Workshop Intervensi Nyeri Jadikan PPDS Lebih Terampil Menangani Nyeri Perioperatif

Pemberian analgesia multimodal, yaitu pemberian obat antinyeri lebih dari satu metode untuk dapat mengurangi nyeri dengan lebih baik, saat ini sedang sangat berkembang. Antinyeri saat ini tidak hanya bisa diberikan melalui obat yang diminum dan disuntik melalui pembuluh darah, namun juga dapat diberikan langsung melalui blok saraf. Keterampilan melakukan blok saraf perifer sangat diperlukan oleh dokter anestesi untuk dapat memberikan pelayanan antinyeri yang menyeluruh.

Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNAIRPada tanggal 20-21 Agustus 2022 mengadakan workshop “Interventional Procedure for Perioperative Pain Management” dimana pada workshop kali ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama yaitu kuliah mengenai Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) dan Procedure Specific Postoperative Pain Management (PROSPECT) oleh Fajar Perdhana, dr., Sp.An., KAKV KIC dilanjutkan dengan materi Anestesi Lokal dalam Anestesi dan Manajemen Nyeri serta Blok Spinal dan Epidural oleh Dr. Anna Surgean Veterini, dr., Sp.An., KIC dan Herdy Sulistyono, dr., Sp.An., KIC., KMN., PallMed. Pada sesi kedua, peserta workshop mengikuti hands-on USG yang dibagi menjadi tiga skill station yaitu Skill USG pada Head and Neck, Skill USG pada Trunk Area, dan Skill USG pada Extremity. Skill-skill tersebut langsung dibimbing oleh para ahli anestesi di bidang nyeri dan regional anestesi yaitu Dr. Christrijogo Sumartono, dr., Sp.An., KIC., dr. Soni Sunarso S., Sp.An., KMN., FIPM., dan dr. Dedi Susila Sp.An., KMN., FIPP.

Dengan diadakannya acara ini, diharapkan para PPDS dapat memberikan penanganan intervensi nyeri dengan menggunakan modalitas USG, sehingga dapat meningkatkan kualitas penanganan nyeri paska operatif. (Prananda)

Departemen Jiwa FK UNAIR Adakan Workshop Analisis TransaksionalDepartemen Jiwa FK UNAIR Adakan Workshop Analisis Transaksional

Untuk memperkaya variasi teknis psikoterapi bagi PPDS dan staf, Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa (IKJ) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR mengadakan workshop analisis transaksional, Sabtu-Minggu, 3-4 September 2022. Kegiatan ini diikuti oleh 54 PPDS dan beberapa staf pengajar.

Analisis transaksional merupakan salah satu metode psikoterapi. Pendekatan ini mempelajari pola komunikasi setiap individu untuk mendeteksi penyebab gangguan interpersonal pasien. Metode ini mengkualifikasikan sikap individu ke dalam empat jenis, critical parent, nurturing parent, natural child dan adaptive child.

Workshop diberikan oleh Gusti Ayu Maharatih, Sp.KJ(K)., M.Kes dari UNS yang bertahun-tahun mendalami dan banyak melakukan penelitian mengenai analisis transaksional.

Ketua Departemen IKJ, Azimatul Karimah, dr., Sp.KJ(K), FISCM menjelaskan, metode analisis transaksional sudah pernah diajarkan di prodi psikiatri 19 tahun silam. Namun tidak lagi diajarkan karena dosen pengampunya pensiun.

“Dulu yang mengajarkan analisis transaksional dari UNAR Dokter Sungkar. Sejak beliau pensiun (Analisis Transaksional) tidak lagi masuk dalam kurikulum pembelajaran,” terangnya.

Melalui workshop ini, Dokter Azimah berharap baik staf maupun PPDS memiliki kepercayaan diri untuk menerapkan metode psikoterapi ini untuk menangani pasien. Diharapkan juga metode ini bisa melengkapi metode psikoterapi lain.

Terlebih, dalam metode psikoterapi ini hanya membutuhkan sesi tatap muka dengan pasien sebanyak enam kali dalam satu paket. Sehingga dinilai cukup efektif bagi rumah sakit yang memiliki banyak pasien namun terbatas jumlah dokternya.

Dokter Uci, panggilan akrabnya, menginginkan paling tidak selama empat tahun masa pendidikan PPDS, mahasiswa paling tidak sekali mendapatkan materi ini. Pun dengan metode psikoterapi yang lain.

“Buat kami untuk proses pendidikan lebih efisien karena pengajarnya sudah ahli di bidang tersebut dan sudah melakukan berbagai penelitian. Daripada kami sendiri yang mengajarkan padahal kami sendiri jarang melakukannya,” terangnya. (ISM)

Workshop Akses Vaskular  untuk Tingkatkan Skill PPDS Departemen Anestesiologi & ReanimasiWorkshop Akses Vaskular  untuk Tingkatkan Skill PPDS Departemen Anestesiologi & Reanimasi

Untuk meningkatkan skill PPDS, Departemen Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) menyelenggarakan Workshop Akses Vaskular. Workshop ini berfokus pada pemasangan akses vascular. Kegiatan berlangsung pada tanggal 27-28 Agustus 2022 di Gedung Anestesi Baru RSUD DR Soetomo.

Koordinator Program Studi, Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An., KIC menuturkan, tak hanya untuk meningkatkan skill, workshop ini juga bertujuan untuk mengikuti perkembangan teknologi yang ada.

Akses vascular memiliki peranan penting dalam berbagai aspek di bidang anestesi. Baik dari aspek kegawat daruratan maupun pada lingkup terapi intensif. Contohnya adalah saat melakukan resusitasi, monitoring hemodinamik pada pasien tidak stabil. Contoh lain pada bidang terapi intensif adalah pemberian nutrisi parenteral.

“Hal yang tidak dapat dilupakan adalah pentingnya pelayanan kesehatan yang bertumpu pada keselamatan pasien dimana perlu diperhatikan preservasi pembuluh darah yang sehat serta upaya untuk melakukan tindakan yang minimal invasive,” paparnya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien adalah menggunakan Ultrasonografi (USG) untuk melakukan visualisasi vascular, sekaligus menjadi panduan yang akurat sehingga tingkat keberhasilan dalam pemasangan akses vascular dapat ditingkatkan. Peningkatan tersebut tentunya merupakan hal baik bagipasien dan  dokter.

Workshop diikuti oleh 142 orang. Selain mendapatkan pemaparan materi, peserta juga berkesempatan untuk hands on langsung pada manekin dengan panduan USG. Sementara materi disampaikan oleh ahli anestesi dan staf pengajar Departemen Anestesiologi dan Reanimasi yaitu dr. Bambang Pujo Semedi, Sp.An.KIC, dr. Kun Arifi Abbas, Sp.An.KIC, dr. Teuku Aswin Husain, Sp.An.KAKV, dr. Yos Kowara, Sp.An, dan dr. Yakobus Edo Hadisubroto, Sp.An.

“Selain untuk meningkatkan skill, kami harapkan mahasiswa juga bisa mengikuti perkembangan teknologi dalam bidang kami,” tambahnya. 

Acara dimulai dengan pemberian materi yang diberikan pada sesi pagi hari antara lain adalah pemasangan CVC dengan guiding USG, Central-Line Associated Bloodstream Infection (CLABSI) dan Peripherally Inserted Central Catheter (PICC).

Sesi siang hari dilanjutkan dengan handson pada manekin yang terdiri dari 3 skill station yaitu USG guided CVC insertion, USG guided Insertion for Intra Arterial Blood Pressure dan Peripherally Inserted Central Catheter dan skill station terakhir yaitu monitoring hemodinamik. Monitoring hemodinamik sendiri merupakan pos yang diisi dengan diskusi kasus dan materi mulai dari monitoring paling dasar sampai tingkat lanjut.

Dengan diselenggarakannya workshop akses vascular, diharapkan kemampuan dan pengetahuan seluruh PPDS yang telah mengikuti workshop dapat menerapkan ilmu yang didapatkan saat melakukan pelayanan pada pasien. “Sehingga dapat memberikan kualitas pelayanan medis yang lebih baik lagi. Tidak lupa mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien,” tukasnya. (Prananda/ISMA)

Cari Solusi Kekurangan Dokter, Kemenkes Adakan Workshop AHS Regional 5Cari Solusi Kekurangan Dokter, Kemenkes Adakan Workshop AHS Regional 5

Universitas Airlangga jadi Koordinator workshop rencana Academic Health System (AHS) Regional 5 di Surabaya. Kegiatan berlangsung selama tiga hari pada tanggal 20 – 22 Oktober 2022. Melalui ini diharapkan ditemukan strategi bersama untuk memenuhi kebutuhan dokter dan dokter spesialis di Indonesia.

Workshop diikuti oleh seluruh dekan fakultas kedokteran dari Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. Turut hadir juga perwakilan dari rumah sakit pendidikan dan dinas kesehatan sebagai komponen penting dalam penegakan AHS.

Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Santoso, dr., Sp.OG, Subs. F.E.R. mengatakan, kegiatan ini menindaklanjuti Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Menteri Kesehatan Nomor 02/KB/2022 dan HK.01.08./MENKES/1269/2022. Diterbitkan tanggal 12 Juli.

Isinya tentang peningkatan kuota penerimaan mahasiswa program sarjana kedokteran dan PPDS. Serta penambahan program studi dokter spesialis melalui Program Academic Health System (AHS).

Mengacu standar WHO, perbandingan antara dokter dan penduduk adalah 1 :1000 penduduk. Jika di Indonesia terdapat 270 juta penduduk, idealnya jumlah dokter saat ini adalah 270 ribu dokter. “Saat ini, jumlah dokter umum di Indonesia masih berada di angka 140 ribu. Artinya Indonesia masih membutuhkan 130 ribu dokter umum lagi,” terangnya.

Sementara rasio dokter spesialis ideal mengacu pada masing-masing program studi (prodi). Beberapa mensyaratkan 30-40 : 100 ribu penduduk. Beberapa mensyaratkan 50 : 100 ribu.

“Sebagai perbandingan dari spesialis Obgyn, sekarang yang ada di Indonesia hanya 4 ribu sekian. Tentu angka tersebut masih sangat rendah,” lanjutnya lagi.

Karenanya, jika program AHS ini berjalan dengan baik, masalah kekurangan dokter dan persebarannya ini bisa tertangani.

FK UNAIR menjadi satu dari 5 fakultas kedokteran di Indonesia yang menjadi percontohan AHS. Selain Universitas Hasanuddin, UGM, UI.

Implementasi AHS di UNAIR sendiri sudah berjalan lama sebelum program ini dimunculkan oleh Kemenkes pada 2017 lalu. Di mana UNAIR telah menjalin kolaborasi yang sangat baik dengan RSUD Dr. Soetomo sebagai rumah sakit pendidikan utama sebagai sarana belajar serta memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Hal ini disampaikan Rektor UNAIR, Prof. Dr. Moh. Nasih,S.E., MT.MM. “Selain berkolaborasi dengan rumah sakit, kami juga berkolaborasi antar fakultas serta pemerintah. Karena pada hakikatnya kita tidak bisa bergerak sendiri,” terangnya.

Beberapa solusi yang ditawarkan oleh rektor dalam menjawab probem kekurangan dokter dan spesialis diantaranya adalah dengan membuka prodi baru. Fakultas kedokteran dari daerah manapun bisa mendirikan program studi baru dengan syarat fakultas tersebut sudah terakreditasi A atau unggul.

“Ini akan menjawab persoalan pemerataan persebaran dokter juga. Karena mereka akan belajar di daerah dan diharapkan juga mengabsi di daerah,” tambahnya.

Selain itu untuk merekrut dokter untuk menjadi dosen ber NIDK. Sehingga mereka bisa menjadi tenaga ahli untuk mendidik mahasiswa kedokteran.

“Sebagai timbal balik dokter-dokter tersebut kami fasilitasi untuk bisa mengurus jabatan akademis tertinggi, seperti guru besar,” tambahnya.

Upaya ini sudah berjalan dengan baik di FK UNAIR dan harapannya bisa diadaptasi di FK lain,” tukasnya. (ISM)

APAC Bioinformatics Workshop, Diharapkan Dapat Mendorong Kemajuan Penelitian Genomic di FK UnairAPAC Bioinformatics Workshop, Diharapkan Dapat Mendorong Kemajuan Penelitian Genomic di FK Unair

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga  merupakan fakultas yang terus melaju dalam melakukan riset genomik dan bioinformatik khususnya di bidang bioinformatik kedokteran. Salah satu dosen di fakultas ini, dr. Firman Setiawan, Sp.MK., Ph.D.  mendapat kesempatan untuk mengikuti The Asia-Pasific (APAC) Population-Genomics, Informatics, and Interpretation Workshop 2023 di Thailand. Diselenggarakan oleh Oxford Nanopore Technology, dan didukung oleh Satriabudi Dharma Setia Foundation. Workshop dilaksanakan di Thailand Science Park Convention CenterThe National Science and Technology Development Agency (NSTDA),  Rangsit, Bangkok, Thailand, pada tanggal 15-16 Maret 2023.

Workshop yang mengundang peserta dari para ilmuwan dan peneliti genomik  di Asia-Pasifik dan pembicara dari UK tersebut  memberikan kesempatan yang sangat baik untuk memahami permasalahan sekuensing long-read genom manusia dengan platform Oxford Nanopore Technology (ONT) dan bagaimana mengatasi berbagai permasalahan; memahami struktur data ONT dan perbedaannya dari analisis short reads; dan menyiapkan alur kerja untuk analisis variasi genetika manusia dan penyakit menular, termasuk di dalamnya adalah analisis  Single Nucleotide  Variant (SNV)/indelsCopy Number Variations (CNV) dan Short Tandem Repeat (STR), metagenomic, transcriptomes, genome Sarcov2, genome Tuberculosis dan lain-lain. Selain itu, peserta workshop mendapat kesempatan mendengarkan presentasi NIVDIA, tentang dukungan mereka dengan merancang unit pemroses grafis untuk studi genomik skala besar.  

Para peserta antusias mendengarkan penjelasan terkait dengan pengembangan penelitian berbasis genomik di Thailand

Pada hari ke-2, peserta workshop diajak berkeliling di Innovation Cluster NSTDA, salah satunya mengunjungi NSTDA Supercomputer Center (ThaiSC) dan melihat Supercomputer LANTA System. LANTA System merupakan infrastruktur penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Dukungan pendanaan tersebut dialokasikan dari Science, Research and Innovation Fund pada tahun 2021 untuk membangun sistem superkomputer yang menyediakan sumber daya komputasi berkinerja tinggi mutakhir untuk komunitas riset Thailand dan mendukung studi di bidang ilmu komputasi, analitik data, dan kecerdasan buatan (AI). LANTA merupakan sistem pertama di Thailand yang mengadopsi teknologi pendingin cair yang lebih hemat energi daripada sistem berpendingin udara, membawa Thailand ke era komputasi hijau. Superkomputer LANTA System siap untuk mendukung beragam penelitian di domain publik dan pribadi, berkontribusi pada inovasi di berbagai bidang termasuk kedokteran presisi, penemuan obat, prakiraan cuaca real-time berdasarkan citra satelit, desain material baru, pemodelan molekuler, keanekaragaman hayati, artificial intelligent (AI), dan analitik Big Data.

Kesempatan penting di akhir kegiatan adalah berdiskusi membangun jejaring kolaborasi dan mendapatkan manfaat dari pengalaman tim bioinformatika dari beberapa institusi di Asia-Pasific untuk nantinya dapat berkontribusi bersama pada kemajuan penelitian genomik di bidang kedokteran khususnya di Indonesia. MAN