Tag: Tuli

Mahasiswa Kedokteran Mengenali Bahasa Isyarat untuk Lebih Memahami Teman Tuli –Mahasiswa Kedokteran Mengenali Bahasa Isyarat untuk Lebih Memahami Teman Tuli –

Pada tanggal 4 Februari 2023, telah dilaksanakan intervensi keenam dari SIGNAL. Kegiatan “Surpassing Barrier with Sign Language” atau biasa disebut SIGNAL merupakan community development yang dilaksanakan oleh 2 SCO CIMSA UNAIR, yakni SCOME dan SCORP. Masing-masing SCO memiliki ranah kerja yang berbeda yakni medical education dan human rights and peace, tetapi berkolaborasi untuk melawan keterbatasan dalam berkomunikasi antara dokter dan pasien tuli. Para mahasiswa kedokteran, khususnya mahasiswa FK UNAIR, diajarkan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) oleh teman tuli dari TIBA Surabaya.

Kegiatan SIGNAL diadakan dalam rangka sulitnya pasien Tuli mengakses pelayanan kesehatan. Mereka cenderung tidak mencari pertolongan medis atau menunggu waktu lebih lama untuk dilayani hingga hadir orang yang bisa menjadi penerjemah untuk mereka. Di sisi lain, dokter dan tenaga kesehatan lainnya tidak disiapkan untuk menghadapi pasien Tuli, padahal komunikasi yang efektif merupakan hal yang penting dalam pelayanan kesehatan. SIGNAL diharapkan dapat membekali para mahasiswa kedokteran sebagai calon tenaga kesehatan dengan kemampuan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) untuk dapat meningkatkan aksesibilitas fasilitas kesehatan yang ramah difabel.

Yang menarik untuk intervensi 5 dan 6 adalah diadakannya kembali kegiatan luring. Setelah keterbatasan untuk belajar dengan hanya melalui Zoom meeting, mahasiswa dipertemukan langsung di Ruang Kuliah Histologi FK Unair dengan teman tuli dari TIBA Surabaya untuk belajar bahasa isyarat. Ika Irawan sebagai teman tuli didampingi oleh juru bahasa isyarat mengajarkan kata-kata bahasa isyarat seputar kata kerja, kata keterangan, musim, profesi, dan terminologi kedokteran. Tentunya dengan belajar secara luring membuat interaksi dua arah menjadi lebih baik, gerakan isyarat lebih mudah diamati dan diawasi, dan materi yang diberikan lebih membekas dalam pikiran dan benak. Selain kebermanfaatan, candaan dan keseriusan dapat lebih menyatu sehingga kegiatan terasa lebih menyenangkan.

Salah satu hal yang disayangkan adalah sedikitnya newbies CIMSA UNAIR yang hadir dalam kegiatan ini karena jadwal yang bertabrakan dengan kegiatan angkatan 2022 itu sendiri. Karena hal ini, SCOME dan SCORP belum bisa mengenalkan serunya belajar isyarat bersama teman tuli secara luring kepada mereka. Di sisi lain, kegiatan ini telah lebih baik menarget anggota CIMSA sendiri sebagai komunitas untuk belajar BISINDO. Dengan begitu, hasil pembelajaran 2 intervensi menjadi lebih terukur dan efisien. Harapannya, SIGNAL intervensi selanjutnya dapat menggaet lebih banyak mahasiswa untuk belajar BISINDO agar kemudahan akses layanan kesehatan yang ramah difabel dapat tercapai secara lebih luas.

Penulis: Rani Qurrota A’yun, Kedokteran 2021

FK Beri Pelatihan dan Dampingi Teman Tuli BerwirausahaFK Beri Pelatihan dan Dampingi Teman Tuli Berwirausaha

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) memberikan pelatihan dan mendampingi komunitas teman tuli untuk berwirausaha. Pelatihan dilaksanakan selama satu bulan di Bulan September lalu. Harapannya ini dapat mengembangkan sumber daya mereka sehingga mandiri ekonomi.

Dalam menyelenggarakan pelatihan ini, FK UNAIR menggandeng PUPA Learning Center di Jakarta Utara, dan komunitas Teman Tuli yang tergabung dalam Iqro Deaf Community (IDC) dan Rumah Qur’an Isyarah (RQI) di Bandung.

“Penyandang disabilitas memiliki kedudukan dan hak yang sama sebagai warga negara Indonesia. Meski terdapat kewajiban bagi instansi pemerintah maupun swasta untuk mempekerjakan penyandang disabilitas. Namun nyatanya, masih banyak penyandang disabilitas yang belum bekerja. Keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas menjadi hal yang mendasar untuk mencapai kemandirian ekonomi,” ungkap ketua kegiatan, dr. Dewi Ratna Sari, M.Si.

Program ini terdiri dari 2 tahapan. Yaitu tahap pelatihan dan tahap pendampingan yang dilaksanakan secara hybrid. Kegiatan dibantu oleh Juru Bicara Isyarat yang telah tersertifikasi.

Pada tahap pelatihan, para peserta dibekali 6 materi, tidak hanya pengetahuan mengenai kewirausahaan tetapi juga mengenai sisi kesehatan yang dapat mendukung kewirausahaan. Sedangkan tahap pendampingan dilakukan pada peserta terpilih yang telah menyusun proposal bisnis, dan didampingi selama 1 bulan untuk merealisasikan bisnisnya.

“Alhamdulillah rangkaian panjang kegiatan ini dapat berjalan sesuai rencana, berkat tim yang solid, terutama Tim Utama dari FK UNAIR, yaitu Dr. dr. Maftuchah Rochmanti, M.Kes dan dr. Rimbun, M.Si”, papar Dewi.

Salah satu materi kesehatan adalah pentingnya olahraga bagi pebisnis oleh Prof. Dr. dr. Bambang Purwanto, M. Kes, seorang pakar kedokteran olahraga dari FK UNAIR. Prof Bambang menuturkan bahwa olahraga dapat meningkatkan kesehatan bisnis, kutipnya dari seorang Founder dan CEO VitFit, Elizabeth Robinson. “Semua pebisnis sukses selalu memulai harinya dengan bangun pagi dan berolahraga, termasuk pebisnis yang menyandang disabilitas” terangnya.

Ia menambahkan, Selain mendapatkan kesehatan dan kebugaran, olahraga secara berkelompok juga dapat memperbanyak relasi, mengurangi stress, serta dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan mengendalikan diri.

Psikiater FK UNAIR, dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ (K) juga turut memberikan materi dalam pelatihan ini untuk memberikan tips dan trik mengelola stress saat terjun di bidang wirausaha. Materi pelatihan kewirausahaan diberikan oleh Aidil Muchammad, SE, ME, CPSC dari PUPA Learning Center.

Sembilan peserta diminta untuk Menyusun proposal bisnis. Kemudian dua proposal yang terpilih, mendapatkan bantuan dana bisnis dan masuk ke dalam sesi pendampingan bisnis yang berlangsung selama 2 bulan. Kedua proposal tersebut adalah Joan Nurhalim dengan judul bisnis “Susu Kedelai dan Susu Murni” dan Nurul Afifah dengan judul bisnis “Mengkomik”. (Rimbun/Isma)

Tingkatkan Kemandirian Ekonomi Sahabat Disabilitas Teman Tuli Melalui Pelatihan KewirausahaanTingkatkan Kemandirian Ekonomi Sahabat Disabilitas Teman Tuli Melalui Pelatihan Kewirausahaan

Sebagai upaya meningkatkan kemandirian ekonomi bagi sahabat disabilitas, tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) berkolaborasi dengan PUPA Learning Center di Jakarta Utara, dan komunitas Teman Tuli yang tergabung dalam Iqro Deaf Community (IDC) dan Rumah Qur’an Isyarah (RQI) di Bandung mengadakan pelatihan yang bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Kewirausahaan Untuk Kemandirian Ekonomi Sahabat Disabilitas”. IDC merupakan komunitas Teman Tuli yang bergerak dibidang pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia Tuli yang cerdas, berakhlak, dan berilmu. “Penyandang disabilitas memiliki kedudukan dan hak yang sama sebagai warga negara Indonesia. Meski terdapat kewajiban bagi instansi pemerintah maupun swasta untuk mempekerjakan penyandang disabilitas. Namun nyatanya, masih banyak penyandang disabilitas yang belum bekerja. Keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas menjadi hal yang mendasar untuk mencapai kemandirian ekonomi. Dengan adanya pelatihan kewirausahaan ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas”, ungkap dr. Dewi Ratna Sari, M.Si, ketua kegiatan ini.

Program ini terdiri dari 2 (dua) tahapan yaitu tahap pelatihan dan tahap pendampingan yang dilaksanakan secara hybrid, dengan dibantu oleh Juru Bicara Isyarat yang telah tersertifikasi. Pada tahap pelatihan, para peserta dibekali 6 materi, tidak hanya pengetahuan mengenai kewirausahaan tetapi juga mengenai sisi kesehatan yang dapat mendukung kewirausahaan. Sedangkan tahap pendampingan dilakukan pada peserta terpilih yang telah menyusun proposal bisnis, dan didampingi selama 1 bulan untuk merealisasikan bisnisnya. “Alhamdulillah rangkaian panjang kegiatan ini dapat berjalan sesuai rencana, berkat tim yang solid, terutama Tim Utama dari FK UNAIR, yaitu Dr. dr. Maftuchah Rochmanti, M.Kes dan dr. Rimbun, M.Si”, papar Dewi.

Salah satu materi kesehatan adalah pentingnya olahraga bagi pebisnis oleh Prof. Dr. dr. Bambang Purwanto, M. Kes, seorang pakar kedokteran olahraga dari FK UNAIR. Prof Bambang menuturkan bahwa olahraga dapat meningkatkan kesehatan bisnis, kutipnya dari seorang Founder dan CEO VitFit, Elizabeth Robinson. “Semua pebisnis sukses selalu memulai harinya dengan bangun pagi dan berolahraga, termasuk pebisnis yang menyandang disabilitas. Selain mendapatkan kesehatan dan kebugaran, olahraga secara berkelompok juga dapat memperbanyak relasi, mengurangi stress, serta dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan mengendalikan diri. Tidak perlu ada kompetisi atau taruhan dalam berolahraga. Lakukan olahraga secara rutin, bervariasi, dan dengan senang hati.”, pesan Prof. Bambang. Beliau juga menambahkan, olahraga harus diimbangi dengan tidur dan istirahat yang cukup.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai cara pengelolaan stress bagi seorang wirausaha dengan narasumber dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ (K). Dokter yang akrab disapa Dokter Uci ini menjelaskan bahwa stress dibutuhkan dalam kehidupan seseorang pada kadar yang tepat dan tidak berlebihan agar menghasilkan performa yang optimum. Sebaliknya, seseorang yang mendapatkan tingkat stress yang terlalu rendah, atau bahkan berlebihan dan terus menerus akan berdampak pada performa rendah. “Banyak sekali hal yang dapat membuat kita stress, terutama di situasi pandemi seperti sekarang ini. Sebagai pebisnis, kita harus tetap dapat berpikir jernih, cerna informasi yang akurat, lakukan relaksasi atau hal-hal yang membuat hati kita tenang dan rileks, dekatkan diri dan tingkatkan komunikasi hati ke hati dengan keluarga atau orang terdekat, tingkatkan spiritualitas, gunakan media sosial dengan bijak, tetapkanlah target yang realistis, dan fokuslah pada problem solving”, pesannya. Beliau juga mengajarkan cara menuliskan target yang realistis dalam konteks pebisnis.

Materi pelatihan kewirausahaan yang diberikan oleh Aidil Muchammad, SE, ME, CPSC dari PUPA Learning Center, juga tak kalah menariknya. Agar paham mengenai konsep kewirausahaan, peserta Teman Tuli diberikan materi mengenai kewirausahaan dasar dan kewirausahaan sosial. “Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu menjadi peluang dan mengkonversi peluang menjadi nilai jual. Wirausaha tidak sama dengan pedagang. Business Owner juga tidak sama dengan Self Employed. Seorang pebisnis juga ada yang berorientasi pada sosial, tidak sekedar profit dalam hal keuangan, namun goal yang utama adalah terwujudnya perbaikan lingkungan sosial”, papar beliau dengan ditambahi penjelasan yang lebih detail.

Materi selanjutnya dari Bapak Aidil adalah mengenai bagaimana menerapkan komunikasi bisnis yang baik. Seorang pebisnis harus mahir menjual, atau mengkomunikasikan produk nya, baik kepada customer, relasi, maupun investor. Bentuk komunikasi sangat banyak, bisa verbal atau non-verbal, baik secara langsung maupun virtual. “Jadi kondisi disabilitas yang dimiliki oleh Teman Tuli bukanlah suatu hambatan yang tidak bisa dicarikan solusinya. Teman Tuli juga bisa menerapkan prinsip komunikasi dengan cara yang lebih kreatif dan bervariasi melalui digital marketing”, tutur beliau menyemangati sahabat disabilitas.

Prinsip bisnis yang juga sangat penting adalah terus berinovasi. Bapak Aidil menyampaikan, inovasi lah yang akan membuat bisnis terus bertumbuh di era dunia tanpa batas ini. “Inovasi bisnis dapat dikembangkan pada aspek produk, proses, dan model bisnisnya”, papar beliau. Beliau banyak sekali mencontohkan inovasi-inovasi yang telah dilakukan oleh bisnis-bisnis terdahulu, yang membuat mereka terus bertahan dan bahkan bertumbuh menyesuaikan perkembangan zaman. Sehingga membuka mata dan pikiran para peserta sahabat disabilitas untuk dapat menemukan inovasi bisnis versi mereka masing-masing. “Ide untuk berinovasi memerlukan critical thinking dan thinking outside the box. Berpikirkah terbuka, visioner, dan temukanlah keunikan pada bisnis kalian masing-masing”, pesan beliau.

Terakhir, untuk melengkapi tahap pelatihan, Bapak Aidil memberikan pelatihan mengenai penyusunan proposal rencana bisnis, dan meminta semua peserta untuk menyusun proposal bisnis, baik untuk bisnis baru maupun bisnis yang sudah berjalan. Di dalam proposal bisnis, harus terdapat visi, misi, mimpi, gambaran usaha, dan rencana anggaran. Termasuk nama dan logo produk, tim manajemen, deskripsi produk, strategi pemasaran, dan analisis persaingan. Proposal bisnis tersebut dipresentasikan satu per satu oleh 9 orang peserta, dan dinilai oleh dewan juri, yaitu Bapak Aidil dan Ibu Noorlaily F, SE., MBA yang merupakan dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR. Model bisnis yang dipresentasikan oleh para peserta sangat bervariasi. Juri dan tim dari FK UNAIR cukup puas, melihat bahwa para peserta dapat memahami dan menerapkan materi-materi yang sudah didapatkan pada tahap pelatihan. Dua proposal yang terpilih, mendapatkan bantuan dana bisnis dan masuk ke dalam sesi pendampingan bisnis yang berlangsung selama 2 bulan. Kedua proposal tersebut adalah Joan Nurhalim dengan judul bisnis “Susu Kedelai dan Susu Murni” dan Nurul Afifah dengan judul bisnis “Mengkomik”.

Para peserta Teman Tuli mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat, dan belum pernah ada pelatihan seperti ini untuk mereka. Bapak Al Islamabad, atau biasa dipanggil Kang Dadi, yang merupakan Ketua dari Iqro’ Deaf Community menyatakan rasa terima kasihnya, “kami dari Teman Tuli membutuhkan untuk diarahkan, bagaimana caranya bisa berusaha secara mandiri diri agar taraf hidup dapat setara dengan Teman Dengar. Semoga dengan adanya kegiatan ini, Teman Tuli dapat mengambil ilmu yang banyak, tidak semata-mata karena kompetisi, tetapi ilmu yang didapat harus diteruskan dan diterapkan.”