Tag: Tapi

Prof Miftah : Guru Besar Bukan Puncak, Tapi Awal KarirProf Miftah : Guru Besar Bukan Puncak, Tapi Awal Karir

Prof Miftah bersyukur, proses perolehan gelar guru besar bisa didapatkan di usia muda. Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang untuk menjadi guru besar butuh waktu lama.

Hal ini tentu menguntungkan karena semakin muda gelar didapat, masa mengabdi sebagai “guru”, berkarya memberikan perubahan pada kemajuan ilmu pengetahuan juga semakin panjang.

“Seorang guru besar di FK UNAIR dulu biasanya dicapai di usia yang cukup senior. Guru besar menjadi puncak karir. Seharusnya guru besar mari kita capai di usia muda sehingga bisa dicapai di awal karir, awal pencapaian. Sehingga berikutnya bisa menjadi pribadi lebih unggul,” terangnya.

Banyak hal yang ingin Prof Miftah kerjakan setelah menyandang gelar guru besar ini. Pertama adalah lebih banyak memberikan manfaat kepada masyarakat. Misalnya dengan banyak menuliskan opini koran, mengisi seminar dan lain sebagainya.

Di sisi lain ia juga ingin banyak memperbaiki buku ajar kepada mahasiswa karena sejatinya, guru besar memiliki peran untuk mengajar

Ia juga ingin menciptakan berbagai inovasi produk.

“Selama ini saya masih fokus pada publikasi. Karena saya memang suka menulus. Tapi saya menyadari itu masih seperti menara mercusuar. Oleh karena itu saya ingin berbuat lebih banyak kepada masyarakat dan pendidikan,” terangnya ditemui setelah prosesi pengukuhan guru besar, Rabu 31 Agustus 2022 di UNAIR.

Target dan tanggung jawab besar dalam menyandang gelar baru ini juga lah yang membuat hatinya bergetar selama menjalani prosesi.

“Hati saya bergetar saat lagu Indonesia raya diputar hingga saat saya memberikan sambutan. Saya berharap, apa yang diamanahkan kepada saya bisa saya jalani dengan sebaik mungkin,” tukasnya. (ISM)

Bakti Penakib Tak Hanya membantu Persalinan, Tapi Juga Edukasi NakesBakti Penakib Tak Hanya membantu Persalinan, Tapi Juga Edukasi Nakes

Bakti Penakib RS Terapung Ksatria Airlanggayang diikuti oleh dokter dan mahasiswa FK UNAIR ini tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan saja. Selain itu, tim dokter juga memberikan edukasi.

Diantaranya pelatihan penanganan gawat darurat obstetri dan neonatal untuk tenaga kesehatan di Pulau Sapeken dan Pagerungan Besar oleh dr. Riska Wahyuningtyas, Sp.OG. Edukasi seminar deteksi kanker serviks untuk kader dan pelajar di Pulau Pagerungan Kecil oleh dr. Amilah Anis. dan seminar PHBS kepada santri di Pesantren Al-Barkah Pagerungan Kecil.

Dokter Rizka menjelaskan, pelatihan ini merupakan permintaan dari tenaga kesehatan. “Sebenarnya pengetahuan mereka sudah cukup baik. Hanya saja mereka meminta dibimbing untuk resusitasi (pertolongan pertama) pada perdarahan,” ujarnya.

Pelatihan ini dibutuhkan karena kasus morbiditas pada ibu melahirkan di kepulauan didominasi oleh perdarahan. Baik karena perdarahan sisa plasenta maupun komplikasi.

“Kami juga memberikan pelatihan mengenai skrinning preeklamsi karena di sana masih kurang diterapkan, tambah dokter asal Kediri ini.

Ada 11 pulau yang dikunjungi dalam Bakti Penakib ini. Antara lain Pulau Sabunten, Saseel, Sepangkur, Sepanjang, Saebus dan Sapeken. Kemudian Pulau Paliat, Sadulang Besar, Pagerungan Kecil, Pagerungan Besar, dan terakhir pulau paling ujung di Jawa Timur, Pulau Sakala yang terletak di utara Pulau Lombok.
Tim RSTKA yang diantaranya merupakan dosen dan mahasiswa FK UNAIR ini berlayar sejak tanggal 10-28 Sebtember 2022.