Tag: Sumenep

Inovasi Peningkatan Kualitas Kader Kesehatan Dalam Upaya Deteksi Dini Tuberkulosis Paru Pada Kehamilan Di Kabupaten Sumenep, Jawa TimurInovasi Peningkatan Kualitas Kader Kesehatan Dalam Upaya Deteksi Dini Tuberkulosis Paru Pada Kehamilan Di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur

Pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2022 Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Puskesmas Bluto Kabupaten Sumenep. Kegiatan tersebut diketuai oleh ibu Evanggelia Dwilda Ferdinandus dengan anggotanya yaitu ibu Farida Fitriana, Ibu Wahyul Anis dan mahasiswa Program Studi Kebidanan FK Unair. Kegiatan pelatihan kader kesehatan TB adalah kegiatan yang dipilih untuk pemberdayaan masyarakat dalam menurunkan angka kejadian TB khususnya pada ibu hamil di Kabupaten Sumenep khususnya di wilayah binaan Puskesmas Bluto. Kegiatan tersebut melatih 30 kader dari 20 desa di Kecamatan Bluto. Kegiatan dilakukan secara hybrid.

Terdapat serangkaian tahapan kegiatan yang dilakukan yaitu pelatihan online melalui whatshap group, pelatihan offline yang diselenggarakan di Puskesmas Bluto dan evaluasi kegiatan yang direncanakan akan dilaksanakan secara online. Saat pelatihan, kader mendapatkan buku modul Tuberkulosis Paru pada kehamilan untuk kader kesehatan dan lembar balik sebagai alat bantu kader saat memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait TB paru saat kehamilan. Setelah kader mengikuti pelatihan offline, setiap kader mendapatkan tugas untuk memberikan edukasi dan self screening kepada 3 ibu hamil. Hasil self screening kemudian akan dilaporkan kepada bidan di Puskesmas dan akan di analisis sebagai dasar evaluasi pelatihan yang telah dilakukan.

Kegiatan pelatihan kader kesehatan TB pada ibu hami mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yaitu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep dan Puskesmas Bluto. Kegiatan pelatihan kader kesehatan merupakan salah satu peran aktif Prodi Kebidanan FK Unair dalam SDGs 3 yaitu good health and wellbeing.

Penulis :

Euvanggelia Dwilda Ferdinandus,S.Keb.,Bd.,M.Kes.

Farida Fitriana, S.Keb.,Bd.,M.Sc.

Wahyul Anis,S.Keb.,Bd.,M.Kes.

Community Development FK UNAIR-RSTKA Pelatihan Kegawatdaruratan Neonatologi dan Obstetri Bagi Tenaga Kesehatan di Pulau Sapudi, Kabupaten SumenepCommunity Development FK UNAIR-RSTKA Pelatihan Kegawatdaruratan Neonatologi dan Obstetri Bagi Tenaga Kesehatan di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep

Dosen Departmen Ilmu Kesehatan Anak – Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Airlangga menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga dengan memberikan pelatihan kegawatdaruratan neonatologi di Pulau Sapudi, pada hari Selasa, 24 Mei 2022 di Puskesmas Nonggunung, Kabupaten Sapudi, Kabupaten Sumenep.

Dr. dr. Alpha Fardah Athiyyah, Sp.A(K) sebagai ketua pengusul menyampaikan jika angka kematian bayi dan ibu masih cukup tinggi di Indonesia terutama di wilayah kepulauan karena kesulitan dalam melakukan tatalaksana lebih lanjut serta tantangan merujuk ke Rumah Sakit Daerah yang berada cukup jauh dengan biaya yang tinggi pada saat perujukan.

Sebelum pelatihan dilaksanakan, review materi dilakukan oleh pembicara yakni, dr. Rizki Pranadyan, Sp.OG memberikan materi mengenai pengenalan dan tatalaksana Preeklampsia, dilanjutkan oleh dr. Pandu Hanindito, Sp.OG, M.Ked.Klin dengan pengenalan dan tatalaksana Hemorrhagic Post-Partum, resusitasi neonatus oleh dr. Kartika Darma Handayani, Sp.A(K) dan Kangaroo Mother Care (KMC) oleh dr. Ni Luh Putu Herli Mastuti, Sp.A.

Peserta juga mendapatkan modul obstetri, resusitasi dan KMC. Pelatihan diikuti oleh 50 tenaga kesehatan dari Puskesmas Gayam dan Nonggunung yang dibagi ke dalam 4 kelompok dan memutari station-station yang ada. Selain keempat pembicara tersebut, pelatihan juga dibantu oleh PPDS Ilmu Kesehatan Anak yakni dr. Adecya Nararia Anindita, dr Rizaldo Bagoes Dinantha, dr. Rifah Zafrani Soumena dan 5 Mahasiswa S1 Kebidanan.

Hasil pre- dan post-test menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan menjadi lebih baik setelah kegiatan pelatihan dilaksankan. Pada akhir kegiatan, tim Community Development juga memberikan bantuan 3 set Neo Tee, banner resusitasi, selendang Kangaroo mother care dan peralatan resusitasi neonatus bagi pada kedua puskesmas. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Sumenep serta menyegarkan kembali penanganan awal sebelum perujukan ke Rumah Sakit Daerah di Kabupaten Sumenep.

Sebanyak 15 Bayi Lahir oleh Tim Dokter FK UNAIR-RSTKA dalam Bakti Penakib Kepulauan SumenepSebanyak 15 Bayi Lahir oleh Tim Dokter FK UNAIR-RSTKA dalam Bakti Penakib Kepulauan Sumenep

Tim dokter dari FK UNAIR bergabung dalam misi Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Kepulauan (Bakti Penakib) Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. Pada tanggal 10-28 Sebtember 2022 kapal berlayar ke beberapa kepualauan di Kabupaten Sumenep. 15 orang bayi lahir dalam misi ini.

Ada 11 pulau yang dikunjungi dalam Bakti Penakib ini. Antara lain Pulau Sabunten, Saseel, Sepangkur, Sepanjang, Saebus dan Sapeken. Kemudian Pulau Paliat, Sadulang Besar, Pagerungan Kecil, Pagerungan Besar, dan terakhir pulau paling ujung di Jawa Timur, Pulau Sakala yang terletak di utara Pulau Lombok.
dr Riska Wahyuningtyas, Sp.OG menuturkan,persalinan yang dibantu oleh tim dokter dari RSTKA adalah kasus-kasus yang membutuhkan operasi. Seperti pada ibu hamil resiko tinggi, mengalami tekanan darah tinggi atau pembukaan lama.

“Kami membantu persalinan yang sifatnya emergensi karena rata-rata menolak untuk dirujuk ke rumah sakit di kabupaten karena alasan sosial dan ekonomi,” kisahnya.

Diceritakan Dokter Riska, biaya transportiasi perjalanan ke rumah sakit dengan kapal bisa menghabiskan 6 hingga 12 juta. Inilah yang membuat pasien bersikukuh dan pasrah, menyerahkan hidup dan mati ditangani di pulau.

“Kami juga sempat menerima pasien dari pulau lain. Mereka dari Pulau Paliyat mendatangi kapal kami yang sedang berlabuh di Pulau Sepanjang untuk menjalani operasi caesar,” lanjutnya.

Penulis : Ismaul Choiriyah

Pengmas FKUA 1984 – Sehat Bersama di Pulau Gili Genting SumenepPengmas FKUA 1984 – Sehat Bersama di Pulau Gili Genting Sumenep

Para alumni FKUA 1984 telah melaksanakan 2 kegiatan Pengabdian Masyarakat. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 1984 turut memeriahkan Dies Natalis Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang ke 109 dengan melakukan 2 kegiatan pengabdian masyarakat. Yang pertama adalah Pengabdian Masyarakat di Desa Biting Ponorogo dan yang kedua adalah Pengabdian Masyarakat di Pulau Gili Genting Sumenep bersama Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga.

Kegiatan Pengabdian masyarakat yang dilakukan di Pulau Gili Genting Sumenep ini dilaksanakan pada hari Minggu, 30 Oktober 2022 dengan Visi Mengarungi Samudera dalam mencapai Kesehatan Ibu dan Anak.

Rangkaian kegiatan disana ada Penyuluhan mengenai Stunting, Pelaksanaan Ibu Hamil, Pemeriksaan Kesehatan anak serta Pelatihan apabila terjadi perdarahan pada Ibu hamil. Seluruh kegiatan yang dilakukan sangat diikuti secara antusias oleh masyarakat, penutupan kegiatan kali ini juga dilakukan bagaimana cara melakukan resusitasi atau pertolongan pertama pada bayi dan balita.

Semoga seluruh kegiatan yang dilakukan memberikan banyak manfaat bagi yang membutuhkan dan dijadikan amalan baik bagi kita semua.

“ Kegiatan pengabdian masyarakat ini ini sebenarnya bukan hanya dalam rangka Dies Natalis saja tapi Insyaa Allah akan kami lakukan berkesinambungan sebagai bentuk bakti untuk negeri atas izin Allah SWT “-Ujar salah satu alumni.(Mas)

Beri Kuota PPDS Putra Daerah, FK UNAIR – UB Teken MoU dengan Pemkab Gresik – Sumenep –Beri Kuota PPDS Putra Daerah, FK UNAIR – UB Teken MoU dengan Pemkab Gresik – Sumenep –

Masih dalam upaya pemerataan dokter spesialis, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) kembali meneken MoU penerimaan PPDS. Yang terbaru dilaksanakan dengan Pemerintah Kabupaten Gresik dan Sumenep juga Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), Kamis, 30 Maret 2023.

Melalui MoU ini, putra daerah yang dikirimkan oleh dua kabupaten ini akan mengambil studi spesialis di FK UNAIR maupun FK UB. Calon PPDS ini mendapatkan beasiswa dari Pemkab dan Dinas Kesehatan sebesar 1 Miliyar per orang. Setelah lulus mereka diwajibkan untuk mengabdi ke daerah dengan rumusan N +3, hitungan masa pendidikan ditambah tiga tahun.

Penerimaan PPDS afirmasi ini masuk dalam payung Academic Health System. Di mana Fakultas kedokteran yang memproduksi dokter bersinergi dengan pemerintah, rumah sakit, dinas kesehatan dan stakeholder lain untuk memecahkan persoalan kesehatan di Indonesia.

“Momentum ini membuktikan bahwa program AHS bukan hanya hitam diatas putih. Bukan hanya melakukan rapat-rapat saja dan memberikan kinerja yang nyata. Kami dari AHS wilayah 5 dimana FK UNAIR sebagai koordinatornya berkomitmen serius dengan adanya program yang baik ini,” ujar Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG, Subps. F.E.R dalam sambutannya di Aula FK UNAIR.

Penandatanganan Kerjasama oleh Dekan FK UNAIR dan Bupati Gresik didampingi oleh Wakil Rektor UNAIR Bidang Internasionalisasi dan Digitalisasi dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (dari kiri ke kanan : Kepala Dinkes Jawa Timur, Dekan FK UNAIR, Bupati Gresik dan Wakil Rektor UNAIR Bidang IDI)

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, S.E. menyebutkan sebagai langkah awal,pihaknya akan mengirimkan lima dokter dari Pulau Bawean untuk menempuh pendidikan dokter spesialis di FK UNAIR & UB. Setelah lulus mereka akan ditempatkan di RSUD Umar Mas’ud, Bawean.

“Beasiswa spesialis ini untuk memenuhi kebutuhan spesialis medik dasar meliputi penyakit dalam, obstetri & ginekologi, jantung, anestesi, bedah dan anak. Kami berharap melalui ini, hak kesehatan masyarakat kepulauan sama dengan masyarakat di daratan,” ujarnya.

Selama ini rumah sakit umum daerah di Gresik bertumpu pada dokter spesialis kiriman. Seperti dari provinsi selama tiga bulan dan kementerian delapan bulan masa tugas. Sehingga kekosongan dokter spesialis kerap terjadi.

Penandatanganan Kerjasama oleh Dekan FK UNAIR dan Bupati Sumenep didampingi oleh Wakil Rektor UNAIR Bidang Internasionalisasi dan Digitalisasi (dari kiri ke kanan : Dekan FK UNAIR, Bupati Sumenep dan Wakil Rektor UNAIR Bidang IDI)

Sementara itu, Sumenep memiliki 126 pulau yang masyarakatnya kesulitan mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Mereka bergelut dengan jarak tempuh yang jauh hingga tingginya biaya transportasi laut untuk sampai ke rumah sakit rujukan di daratan. Seperti masyarakat dari Masalembu yang membutuhkan 22 jam perjalanan laut untuk sampai ke rumah sakit.

“Di sini kami sampaikan apresiasi luar biasa kepada FK UNAIR yang jauh sebelum ini selalu hadir untuk masyarakat kepulauan kami melalui RS Terapung Ksatria Airlangga,” tambah Bupati Sumenep, Achmad Fauzi menyebut.

Kendati demikian, Sumenep harus memikirkan solusi jangka panjang sehingga ada dokter spesialis yang bisa ditempatkan di rumah sakit Abuya, Kangean, pulau paling besar di Sumenep.

“Saat ini hanya ada empat dokter spesialis yang ada di rumah sakit baru kami ini. Sementara masyarakatnya 250 ribu jiwa. Karenanya kami upayakan pemenuhan spesialis sehingga rumah sakit ini bisa berjalan,” tukasnya. (ISM)