Tag: Sembilan

Sembilan Prodi FK UNAIR Siap Terima PPDS TNISembilan Prodi FK UNAIR Siap Terima PPDS TNI

Seusai menjalani visitasi di RSPAD Gatot Soebroto, rombongan FK UNAIR disambut oleh Panglima TNI, Jenderal TNI Muhammad Andika Perkasa, S.E., M.A., M.Sc., M.Phil, Ph.D., di Markas Besar TNI, di Jakarta. Dalam kunjungan ini dilakukan dialog mengenai hasil visitasi dan tindak lanjut pendidikan hybrid untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Hybrid khusus untuk dokter militer.

Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG (K) menegaskan, 9 prodi FK UNAIR siap untuk menjalankan perkuliahan hybrid ini. Dekan menyebut, paling tidak dalam setiap penerimaan PPDS baru.

“Artinya masing-masing prodi akan menerima antara 3-4 PPDS,” terangnya.

Dekan berharap, dengan pembatasan kuota ini, dokter militer yang mendaftar menjadi dokter PPDS Hybrid di FK UNAIR adalah dokter pilihan. Artinya terseleksi dari kompetensi maupun kesesuaian minat.

“Kami juga berharap, karena kuotanya ada 30, paling tidak yang diseleksi antara 50 atau lebih. Jika belum mencapai yang ditargetkan, proses seleksi diperpanjang,” tambahya.

Sejauh ini, 9 prodi di FK UNAIR yang menyatakan siap menerima PPDS hybrid dari militer antara lain dari prodi ilmu bedah, bedah saraf, anestesi dan reanimasi serta pediatri.

Selain itu juga ada Obstetri dan Ginekologi, Radiologi, Kardiologi dan Bedah Vaskular, Ilmu Penyakit dalam dan Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik.

Dekan menyebut, seleksi penerimaan PPDS baru akan dimulai pada Juli 2022. Sehingga TNI masih memiliki tiga bulan untuk memberikan informasi ini serta mempersiapka para calon PPDSnya.

Jenderal Andika menegaskan, TNI akan membiayai dana hibah awal bagi mahasiswa PPDS nya. Ia berharap, dengan bantuan ini juga bisa mendorong PPDSnya untuk memperdalam ilmu di FK UNAIR. Ia juga meminta kepada Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), untuk menginformasikan ini kepada dokter militernya.

Berdasarkan para pimpinan sebenarnya banyak dokter militernya yang mendaftar untuk melanjutkan studi PPDS baik di FK UNAIR maupun kampus lain. Namun tak sedikit yang gugur dalam seleksi. Misalnya karena kurang memenuhi standar kompetensi yang disyaratkan atau dalam ujian.

“Karenanya dengan kerjasama dengan FK UNAIR ini, kami akan mengupayakan agar mereka yang benar-benar serius akan dibantu untuk masuk. Tentu jika memenuhi persyaratan yang ada,” ujarnya.

Adapun beberapa poin yang diseleksi dalam penerimaan PPDS adalah tes potensi akademis, kondisi psikologis dan transkrip nilai S1 yang harus memenuhi standar.

Andika berharap, pendidikan PPDS hybrid ini, mampu meningkatkan kompetensi dokter-dokter militer di Indonesia, memperkuat rumah sakit militer yang berdampak langsung pada penyetaraan distribusi dokter militer yang ada di Indonesia.

“Kami juga berharap ini bisa menjadi percontohan bagi institusi lain sehingga membantu permasalahan distribusi dokter spesialis di Indonesia,” tambahnya.

Diketahui sebelumnya, UNAIR dan TNI menandatangani MoU tentang pendidikan hybrid untuk dokter TNI.

Pendidikan hybrid ini maksudnya semua standar akademis mulai dari penerimaan, kurikulum, kompetensi dan kriteria kelulusan mengikuti standar yang ditetapkan FK UNAIR. Hanya saja proses pendidikannya tidak dilakukan layaknya PPDS pada umumnya di rumah sakit pendidikan utama FK UNAIR, namun di beberapa rumah sakit milik TNI.

Sementara ini ada tiga rumah sakit TNI yang akan digunakan sebagai wahana pendidikan. Antara lain RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, RSAL Dr. Ramelan Surabaya dan RS TNI AD Madiun. (ISM)

Sembilan Penguji Perempuan, Bahas Kesuburan PriaSembilan Penguji Perempuan, Bahas Kesuburan Pria

Ada yang menarik dari ujian doktor Dr. Dody Taruna, dr., M.Kes. kendati tesis yang diangkat adalah mengenai kesuburan pria, menariknya mayoritas penguji mulai dari promotor dan penyanggah adalah perempuan.

Mulai dari Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si., Dr. Hanik Badriyah Hidayati Sp.N (K), Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, dr., Sp.OG (K), Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes dan beberapa penguji perempuan lain.

Selain itu, ada pimpinan sidang yang tak lain adalah Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG (K) dan salah satu penguji laki-laki.

Ini bisa dikatakan suatu momen yang langka terjadi di sidang doktoral FK UNAIR. Ini juga menunjukkan bahwa perempuan juga setara dengan laki – laki.

“Ini menarik sekali ya. Apalagi momennya pas berdekatan dengan hari kartini. Ini menunjukkan bahwa ada banyak perempuan-perempuan hebat,” tukas Dekan (ISM)