Tag: Sedunia

Peringati Hari Perempuan Sedunia, FK UNAIR Gelar Webinar Kanker pada PerempuanPeringati Hari Perempuan Sedunia, FK UNAIR Gelar Webinar Kanker pada Perempuan

Memperingati hari perempuan sedunia, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) menggelar webinar internsional tentang kanker pada perempuan, Selasa (8/3). Webinar ini menggandeng para pakar kesehatan dari China Medical University sebagai pembicara.

Dekan FK UNAIR, Prof Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) menuturkan, kanker menjadi penyakit penyebab kematian terbesar kedua di dunia. Hal ini dipicu karena sering kali, gejala kanker tidak nampak di awal.

Angka kejadian kanker pada perempuan tinggi di negara-negara yang berpenghasilan menengah ke bawah. Di Indonesia sendiri, angka kematian akibat kanker meningkat 8,8 persen dalam dua tahun ini.

“Karenanya kita perlu banyak mengedukasi masyarakat mengenai kanker. Juga mengajak masyarakat untuk mempertahankan gaya hidup sehat karena itu juga memegang peranan sangat penting dalam pencegahan kanker,” tambahnya.

Dekan berharap webinar ini menjadi ajang untuk sharing pengetahuan demi meningkatkan pelayanan kesehatan.

Webinar ini diisi oleh beberapa pembicara ahli dari FK UNAIR antara lain Linda Dewanti, dr., M.Kes., MHSC., Ph.D, Dr. Brahmana Askandar T, dr.,Sp,OG(K)Onk, dan Prof. Dr. Nancy M. Rehatta., dr., SpAn-KNA,KMN.

Selain itu ada beberapa pemateri ahli dari CMU antara lain Assoc. Prof. Ro. Ting. Lin, BS, MS, PhD, Prof Ming Tan, MD., PhD serta Prof Chien-Chen Huang, MD., PhD.

Beberapa topik menarik pun disajikan. Seperti dampak paparan industri kimia besar kimia resiko kanker hingga peran akupuntur terhadap pengurangan rasa sakit pada pasien yang mendapatkan terapi kanker. (ISM)

Gubes FK UNAIR Paparkan Pesan Dibalik Peringatan Hari Ginjal SeduniaGubes FK UNAIR Paparkan Pesan Dibalik Peringatan Hari Ginjal Sedunia

Setiap tahun, tepatnya pada hari Kamis minggu kedua bulan Maret, diperingati Hari Ginjal Sedunia (“World Kidney Day”). Pada tahun ini, Hari Ginjal Sedunia jatuh pada tanggal 10 Maret 2022.

Ahli Ginjal FK UNAIR, Prof. Djoko Santoso, dr., SpPD, KGH, Ph.D.,FINASIM menuturkan, peringatan ini adalah salah satu bentuk kampanye untuk meningkatkan kewaspadaan akan bahaya penyakit ginjal. Serta usaha untuk menggalakkan pentingnya menjaga kesehatan ginjal.

Mengutip worldkidneyday.org, peringatan Hari Ginjal Sedunia tahun ini mengusung tema Kidney Health for All atau ‘Kesehatan ginjal untuk semua’. Khususnya di tahun ini, masyarakat dimotivasi untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan untuk perawatan ginjal yang lebih baik.

“Kampanye Hari Ginjal Sedunia tahun 2022 berfokus pada upaya untuk meningkatkan pendidikan dan kesadaran tentang kesehatan ginjal, dan mengurangi kesenjangan pengetahuan akan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang sangat memprihatinkan di semua tingkat perawatan ginjal, ” terangnya.

Selain sebagai kampanye global akan pentingnya fungsi ginjal, peringatan Hari Ginjal Sedunia juga menyoroti tingginya prevalensi penyakit ginjal, serta menegaskan bahwa diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan faktor pemicu terdepan dalam membawa seseorang terkena PGK.

Pada tahun 2021, data Center of Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menunjukkan bahwa 1 dari 7 warga Amerika menderita PGK. Dengan kata lain, 15% dari penduduk dewasa atau sekitar 37 juta orang diperkirakan menderita penyakit tersebut.

Menariknya, 9 dari 10 orang dewasa dengan PGK tidak mengetahui bahwa diri mereka sakit dan 2 dari 5 pasien PGK berat tidak menyadari bahwa mereka menderita PGK.

Sementara itu, dengan angka penderita diabetes mellitus dunia yang terus meningkat, dari sekitar 425 juta orang di 2017 dan diperkirakan naik menjadi 629 juta orang nanti di 2045, maka bisa di tebak bahwa jumlah penderita PGK juga akan meningkat.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2009 sampai dengan 2014 melaporkan bahwa persentase jumlah penderita diabetes yang mengalami gangguan ginjal kronis 5 kali lebih banyak dibanding pada populasi orang yang tidak menderita diabetes.

Di Asia Tenggara, pada 2017, tercatat peningkatan angka kematian akibat PGK yang disebabkan diabetes kurang lebih sebesar 2,5 kali lipat dibanding tahun 1990.

“Peringatan Hari Ginjal Sedunia pada tahun 2022 ini memiliki makna dan tantangan tersendiri dikarenakan momentumnya bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang sudah 2 tahun melanda dunia, ” papar Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FK UNAIR ini. (ISM)

500 lilin di Lapangan FK UNAIR di Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia500 lilin di Lapangan FK UNAIR di Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

Tak seperti biasanya, lapangan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) nampak terang, Sabtu malam lalu. 500 orang berkumpul menyalakan lilin memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh setiap tanggal 10 September.

Dekanat, Direktur RSUD Dr. Soetomo, psikiater, PPDS, dokter hingga mahasiswa hadir. Tak terkecuali Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak.

Bahkan malam itu wagub juga menyumbangkan suara emasnya. Sambil memetik gitar, ia membawakan lagu Smile, membawa pesan harapan kepada penderita depresi. Bahwa mereka tidak sendiri. Mereka layak hidup dan mendapatkan dukungan moral. Suara merdu, petikan gitarnya serta ratusan lilin yang mengelilinginya membuat suasana malam itu makin syahdu.

“Satu hal yang perlu kita bangun sebuah kesadaran di tengah masyarakat adalah ada yang namanya kesehatan jiwa. Dan ini adalah sebuah kondisi yang dianggap sebagai rumpun medis,” terang wagub.

Untuk mengurangi angka bunuh diri sendiri, lanjut Kang Emil dibutuhkan sebuah kesadaran (awareness). Seorang dengan masalah kesehatan jiwa, misalnya depresi tidak seharusnya dihakimi. Malah mereka sangat membutuhkan dukungan moral. Apalagi dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman.

“Kadang keluarga justru yang paling sulit menyadari bahkan sulit menerima. Karenanya teman bisa menjadi penolong utama. Karena biasanya orang lebih nyaman curhat ke temen. Kadangkala kita punya temen kemudian temen itu bercerita, merasa dia ini butuh pertolongan. Kita nggak tahu dia ini chance nya sekadar lagi sedih atau memang menjurus ke depresi. Karenanya kalau kita ragu sebaiknya kita asumsikan depresi dan segera akses pertolongan,” papar suami Arumi Bachsin ini.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K). Dekan menyebut, jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebanyak 1 juta ribu per tahun. Rata-rata kasus bunuh diri terjadi pada usia 19-39 tahun. (Dewasa muda). Ini menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia melebihi kecelakaan lalu lintas.

“Ini sangat memprihatikan. Karenanya kesehatan mental ini tidak bisa disepelekan. Jika adik-adik melihat teman atau keluarga terdekat murung, mengarah ke depresi tolong dibantu. Jangan dihakimi. Kalau bisa kita bantu ke profesional,” harap dekan.

Perlu Ada Perubahan Pada Sistem Kesehatan

Perwakilan Indonesia di Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Internasional (IASP), dr. Nalini Muhdi Agung, Sp.KJ(K) menambahkan, yang perlu disadari, seorang yang cenderung melakukan bunuh diri sebenarnya selama ini mereka “Cry for Help” atau membutuhkan pertolongan.

“Karenanya setiap tahun tema peringatan kita adalah Creating Hope Through Action. Kami peringati dengan menyalakan lilin setiap tanggal 10 September jam 20.00 malam untuk menunjukkan dukungan. Kita berikan harapan kepada mereka bahwa kita ada untuk mereka,” tambah psikiater senior di Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo ini.

kejadian bunuh diri terus meningkat setiap tahun. Bahkan kejadian tertingginya bergeser dari yang awalnya dari negara-negara Eropa dan Amerika menjadi negara-negara Asia.

Sayangnya, angka kejadiannya tidak pasti karena selama ini data hanya didapat dari kepolisian, bukan dari rumah sakit. Hal ini, tak lepas karena di Indonesia sendiri, bunuh diri masih dianggap sesuatu yang ilegal. Bukan karena masalah kesehatan jiwa. Karenanya pihaknya masih mengupayakan agar hal ini diakui dalam sistem kesehatan.

“Selama itu dianggap ilegal, maka tidak akan dicover oleh asuransi kesehatan manapun. Dan itulah karenanya kita tidak pernah bisa mendiagnosa hal itu,” lanjutnya.

Mengapa ini penting, di luar satu juta orang yang meninggal bunuh diri, sebetulnya ada puluhan kali lipat orang yang melakukan percobaan bunuh diri. Dan itu tidak diketahui. Karenanya perubahan sistem kesehatan dalam melihat bunuh diri menjadi bagian dari masalah kesehatan mental. (ISM)