Bulan: Februari 2024

Mahasiswa FK Siap Lakukan Tes IVA untuk MasyarakatMahasiswa FK Siap Lakukan Tes IVA untuk Masyarakat

Kelompok Pengkaji Lingkungan Aesculap (KPLA) FK UNAIR mendapatkan pelatihan sebelum melakukan tes IVA gratis kepada Masyarakat di Keputih, 19 Desember mendatang.

Pelatihan digelar hari Minggu (12/12) di RSIA Kendangsari dan diikuti oleh 25 mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa preklinik dan dokter muda (DM). Pelatihan dipimpin langsung oleh beberapa dokter di RSIA Kendangsari. Mahasiswa juga berkesempatan untuk praktik dengan manekin.

Diketahui tes IVA sendiri merupakan deteksi dini untuk kanker serviks. Tes IVA merupakan tes paling mudah dan murah untuk mendeteksi kemungkinan adanya kanker rahim tersebut.

Supervisor pemeriksaan IVA Baksos KPLA, dr. Muhamad Fachry, SpOG menuturkan, tes IVA bukan merupakan sesuatu yang sulit untuk dikerjakan oleh mahasiswa kedokteran. Hal ini karena prosedurnya tidak memerlukan tindakan.

“Awalnya mereka mau meminta bantuan bidan yang mengerjakan. Namun saya pikir kenapa tidak mereka sendiri, toh skill dasar mereka sudah dapat,” terangnya.

Terlebih, ini juga membantu pemerintah Indonesia, khususnya Surabaya untuk menggalakkan deteksi dini kanker rahim. Mengingat kanker rahim menjadi kasus kanker tertinggi kedua di Indonesia.

Dokter Fachry juga menyampaikan, ini menjadi kesempatan mahasiswa menambah jam terbang. Karena selama pandemi, keterampilan medis mahasiswa FK juga terbatas.

“Mereka juga bekerja atas supervisi dari kami dan prosedur IVA tidak rumit dan dapat dilakukan secara cepat, jadi menurut saya kegiatan ini jadi kesempatan belajar juga buat adik-adik,” terang alumnus yang juga senior generasi kedua KPLA ini.

Dokter spesialis kandungan ini menambahkan, gerakan ini juga mendapatkan dukungan dari dekan. Kegiatan ini menyambungkan antara alumnus dan mahasiswa untuk berbuat ke masyarakat.

Ketua Baksos KPLA, Jeffrey Aldric Afaratu menambahkan, Pemeriksaan IVA gratis dilakukan karena banyak ibu-ibu di RW 8 Keputij yang belum mendapatkan pemeriksaan IVA ataupun papsmear karena keterbatasan dana dan keengganan karena takut. Nantinya akan ada 20 ibu yang akan mendapatkan pemeriksaan IVA gratis.

Jeffrey menambahkan, nantinya, jika dari hasil IVA menunjukkan positif, pihaknya akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan Kota Surabaya untuk mendapatkan terapi lebih lanjut. Baik di puskesmas atau di rumah sakit ke dokter spesialis terkait.

Ada Pengobatan Gratis dan Pemeriksaan Katarak

Jeffrey menuturkan, kegiatan ini merupakan kegiatan bakti sosial KPLA FK UNAIR tahunan bernama Gelar Bakti Aesculap. Tidak hanya melakukan tes IVA, namun berbagai pelayanan medis pun dilakukan. Antara lain pemeriksaan katarak.

Selain itu juga ada pengobatan gratis kepada 100 orang. Warga juga akan mendapatkan pemeriksaan gula darah, asam urat dan kolesterol. Warga juga akan diberikan vitamin jika diperlukan.

“Kami menggandeng dokter spesialis dan dokter umum yang sudah berpengalaman sebagai supervisi dalam baksos kali ini. Untuk tindakan yang tidak bisa kami lakukan sendiri, kami dibantu dokter senior,” tambahnya.

Selain itu, dalam baksos yang digelar di Kantor Kecamatan Keputih ini juga dibagikan sembako gratis untuk warga. (ISM).

Tanggap Bencana Semeru Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo Kirim Tenaga MedisTanggap Bencana Semeru Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo Kirim Tenaga Medis

Bencana alam kembali terjadi di Indonesia, Gunung Semeru mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021) lalu. Awan panas dan guguran erupsi Gunung Semeru memberikan dampak yang berat ke wilayah Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. BNPB melaporkan korban luka-luka 56 jiwa, korban hilang 17 jiwa dan korban meninggal dunia 34 jiwa, sedangkan jumlah populasi terdampak 5205 jiwa. Selain itu erupsi mengakibatkan kerugian material berupa kerusakan sekitar 2970 unit rumah.

Dampak lanjutan dari bencana ini adalah banyaknya titik pengungsian, dimana BNPB menyampaikan (7/12/2021) terdapat tujuh sebaran titik pengungsian di Kabupaten Lumajang. Adanya kondisi lokasi pengungsian yang padat disertai keterbatasan fasilitas menimbulkan masalah baru bagi para pengungsi khususnya masalah kesehatan. Sebagai bentuk respon atas bencana erupsi Gunung Semeru, Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNAIR-RSUD. Dr. Soetomo bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Yayasan Alumni Bedah Airlangga mengirimkan tim bantuan medis dengan tujuan Pengabdian Masyarakat ke lokasi pengungsian.

Tim bantuan medis diberangkatkan oleh dr. Edwin Danardono, Sp.B-KBD selaku Ketua Program Studi Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNAIR-RSUD. Dr. Soetomo. Tim tersebut terdiri dari empat orang Dokter PPDS Ilmu Bedah FK UNAIR yaitu dr. Rachman, dr. Lahuda, dr. Florencia, dan dr. Chakra yang diterjunkan ke lokasi pengungsian selama lima hari. Pada hari pertama diterjunkan (8/12/2021) Tim Medis Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNAIR- RSUD. Dr. Soetomo melakukan home care/visitasi kepada warga terdampak dan melakukan assesmen lokasi pelayanan medis di Desa Sumberwuluh. BNPB melaporkan terdapat kurang lebih 5 titik pengungsian di rumah-rumah masyarakat sekitar lokasi bencana yang terdiri dari sekitar 50 KK, dengan karakteristik pengungsi usia balita, anak-anak hingga lansia.

Pelayanan kesehatan terus berlanjut pada hari berikutnya dengan mendatangi pos-pos pengungsian. Keluhan yang banyak didapatkan oleh tim medis di lapangan adalah gatal-gatal, diare, dan gangguan pernafasan yang dapat disebabkan oleh infeksi. Tim bantuan medis yang melakukan home visit mendapatkan salah satu pasien yang semenjak erupsi mengalami gangguan pernafasan hingga kehilangan suara, tim langsung memeriksa dan memberikan obat-obatan serta vitamin. Banyak pula dari masyarakat di lokasi pengungsian yang menderita hipertensi. Kondisi ini mungkin diakibatkan oleh karena istirahat yang tidak teratur dan kondisi pikiran yang penuh kepanikan serta ketakutan akan adanya erupsi susulan.

Salah satu program yang juga dilakukan tim medis Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNAIR- RSUD. Dr. Soetomo bekerja sama dengan Humanity Medical Service Aksi Cepat Tanggap adalah program Operasi Gizi Anak Indonesia (OGAI) di beberapa titik pengungsian. Pendampingan psikososial oleh tenaga professional dengan memberikan kegiatan yang menghibur anak korban bencana, pembagian makanan sehat dan susu dilakukan kepada sekitar 200 anak di beberapa lokasi pengungsian. Proses kegiatan ini diharapkan dapat meringankan trauma psikis yang dirasakan oleh anak-anak korban bencana dan tetap menjaga asupan gizi mereka.

Tim medis Prodi Spesialis Ilmu Bedah FK UNAIR- RSUD. Dr. Soetomo berupaya memberikan pelayanan kesehatan dan pendampingan psikososial kepada warga terdampak erupsi gunung semeru dengan maksimal. Dr. Sahudi, dr. Sp.B(K)KL selaku Ketua Departemen Ilmu Bedah FK UNAIR-RSUD. Dr. Soetomo berharap tim bantuan medis yang dikirim ke lokasi pengungsian dapat meringankan beban para warga yang terdampak bencana dan mencegah timbulnya masalah kesehatan baru bagi para pengungsi pasca terjadinya bencana. Dengan adanya bantuan yang diberikan oleh tim gabungan ini, masyarakat dapat lebih berfokus dalam upaya pemulihan kondisi pasca bencana sehingga dapat beraktifitas normal kembali seiring membaiknya kondisi alam pasca bencana (Dannu Novriandhika)

Tim FK UNAIR Juara 3 Lomba Cipta Lagu Fisiologi InternasionalTim FK UNAIR Juara 3 Lomba Cipta Lagu Fisiologi Internasional

Tak hanya jago di bidang kedokteran, rupanya mahasiswa FK UNAIR juga punya bakat dalam bermusik. Tak tanggung-tanggung, kepiawan akan dua hal yang berbeda ini jika digabungkan bisa menjadi prestasi yang membanggakan.

Seperti baru-baru ini, tim dari FK UNAIR meraih penghargaan dalam lomba cipta lagu fisiologi internasional, The Sound of Physiology yang digelar oleh University Malaya, Malaysia. Tim yang digawangi oleh Arrasy Khawarizmi, Visuddho dan Gockmalina Clementin Odile ini meraih juara 3 dengan judul lagu Hungry Song.

Dalam lagu yang dikemas dengan nada yang ceria ini, tim FK UNAIR ini menceritakan mekanisme lapar. Tentang bagaimana respon tubuh ketika melihat dan mencium dua makanan berbeda. Satu pizza yang disukai dan pepaya yang tidak disukai.

Setelah diperdengarkan lagunya, tak heran jika mereka menang. Lagu yang mereka aransemen bernada fun, dengan musik yang catchy. Dasar fisiologi yang dipaparkan dalam lagu juga disampaikan secara gamblang.

Ketua tim, Arrasy menuturkan, sejak awal, mereka sepakat untuk membuat lagu dengan musik yang riang khas lagu anak-anak. Setelah brainstorming dan banyak diskusi, akhirnya lagu jadi, satu minggu sebelum pendaftaran ditutup.

“Jadi kami bagi tugas, saya di aransemen dan nada dan Gockma di musik sementara Visuddho yang membuat liriknya,” terangnya.

Tim yang terdiri dari mahasiswa semester tujuh ini juga sebelumnya telah berkonsultasi dengan dosen pembimbing yang tak lain adalah Dr. Kristanti Wanito Wigati, M.Si untuk memastikan ketepatan ilmu fisiologi yang disampaikan dalam lagu.

Tim hebat dari FK UNAIR ini berhasil sejajar dengan mahasiswa kedokteran dari University of New South Wales Australia sebagai Juara 1 dan University Sains Malaysia sebagai juara 2.

Mereka juga mengalahkan finalis dari berbagai negara. Seperti dari India, Indonesia, Brazil, Russia, Australia dan Malaysia.

“Sejujurnya kami tidak menyangka karena ikut ini awalnya nothing to lose saja. Coba-coba ikutan dan ternyata menang. Tentu sangat bersyukur sekaligus senang,” tukasnya. (ISM)

Kegiatan Departemen Anestesi dan Reanimasi FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo di LumajangKegiatan Departemen Anestesi dan Reanimasi FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo di Lumajang

Pada Sabtu 4 Desember 2021 sekitar pukul 15.00 WIB, Gunung Semeru dilaporkan meletus dan mengeluarkan material pijar dan letupan yang menimbulkan awan panas guguran (APG) yang membumbung ke angkasa hinga mencapai sekitar 11 kilometer dan membuat langit sekitar wilayah gunung semeru, serta daerah kabupaten Lumajang berubah seperti malam hari dikarenakan debu vulkanik.

BNPB mendapatkan data banyaknya jumlah korban yang terdampak, mulai dari luka ringan, sedang dan berat. Kejadian tersebut berdampak pada sejumlah desa di dua kecamatan Lumajang, yaitu total korban 56 orang mengalami luka ringan dan berat. Pelaporan tersebut merupakan bagian dari penduduk di kecamatan Candipuro dan Pronojiwo yang berjumlah 5.205 jiwa yang terdapak letusan gunung Semeru. Dengan rincian pasien luka bakar yang dirawat di RSUD Pasirian 36 orang dan beberapa dirujuk ke RSUD Haryoto karena luka bakar berat dan trauma inhalasi, sedangkan di RSUD Haryoto sebanyak 13 orang dan 9 diantaranya di rawat di ruang intensif care unit (ICU).

Dengan kondisi tersebut maka Departemen Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo mengirimkan bantuan 3 tenaga medis yaitu 1 orang PPDS Sp-2 Konsultan Terapi Intensif dan 2 orang PPDS Sp-1 Anestesi dan Terapi Intensif untuk memberikan bantuan pelayanan anestesi dan terapi intensif di RSUD Haryoto Lumajang.

Tim bantuan medis dilepas dan diberangkatkan oleh Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes, SpAn, KIC selaku Ketua Program Studi Prodi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UNAIR RSUD Dr. Soetomo, terdiri dari 1 orang PPDS Sp-2 Konsultan Terapi Intensif yaitu dr. Eka Ari Puspita Sp.An dan 2 orang PPDS Anestesi yaitu dr. Catur Zannuar dan dr. Dana Wandrianbaraseta yang ditugaskan di RSUD Haryoto Lumajang. Saat datang ke RSUD Haryoto Lumajang, tim menghadap dan diterima oleh Direktur RSUD Haryoto Lumajang dr. Halimi Maksum, MARS untuk meminta ijin membantu pelayanan di RSUD Haryoto.

Pada hari pertama, tim melakukan identifikasi, reasessment kondisi klinis pasien secara umum dan merencanakan persiapan operasi luka bakar. Kegiatan tersebut berkolaborasi dengan dokter Spesialis Anestesi RSUD Haryoto yang merupakan lulusan dari Spesialis Anestesi FK UNAIR yaitu drLia Fatmarita Indriati SpAn dan dr. Uli Artha Ekawaty SpAn.

Pada hari-hari berikutnya, tim medis melakukan proses anestesi dan penanganan terapi intensif pada pasien luka bakar yang dirawat di ICU dan ruang perawatan untuk membantu pelayanan di RSUD Haryoto, sehingga mengurangi beban pelayanan di ruang operasi dan ICU. Hingga hari terakhir tim medis bertugas, pasien yang berada di ICU tinggal 3 orang pasien dengan kondisi tidak mengunakan ventilator.

Selama pelayanan di Lumajang, tim anestesi dan terapi intensif dari UNAIR dan RSUD dr. Soetomo berkoordinasi, melaporkan serta dipantau juga oleh Dr. Christriyogo Soemartono W, dr. Sp.An.KIC.,KAR sebagai Koordinator pelaksana lapangan (HEOC) dari Pusat Krisis Kesehatan Kementrian Kesehatan yang juga merangkap sebagai ketua tim bantuan bencana Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. (Dana, Catur, Prananda).

Mahasiswa FK UNAIR Lakukan Baksos di Keputih, Ajak Alumni Tes IVA dan Periksa KatarakMahasiswa FK UNAIR Lakukan Baksos di Keputih, Ajak Alumni Tes IVA dan Periksa Katarak

Kelompok Pengkaji Lingkungan Alam Fakultas Kedokteran UNAIR (KPLA FK UNAIR) melakukan kegiatan bakti sosial kepada masyarakat di Kecamatan Keputih, Sabtu ( 19/12). Dalam baksos ini, organisasi mahasiswa FK UNAIR ini melakukan serangkaian pelayanan kesehatan. Antara lain pemeriksaan katarak, tes IVA hingga pengobatan gratis.

Ketua Baksos KPLA FK UNAIR Tahun 2021, Jeffrey Aldric Afaratu menuturkan, bakti sosial ini menyasar 140 orang lebih. Dengan rincian 12 orang yang menjalani tes IVA, 30 orang pemeriksaan katarak dan sisanya menjalani pengobatan gratis. Pengobatan gratis ini meliputi pemeriksaan tensi, gula darah, kolesterol maupun hipertensi. Selain mendapatkan pengobatan gratis, peserta juga diberikan sembako gratis.

Meskipun masih mahasiswa, para anggota KPLA ini juga terjun langsung menangani pasien. Beberapa kegiatan yang tidak melakukan tindakan seperti tes IVA hingga anamnesis dilakukan oleh mahasiswa, tentu atas supervisi dari dokter berpengalaman.

Seperti Tes IVA, mereka mendapatkan supervisi langsung dari alumnus serta senior KPLA yakni Muhammad Fachry, dr., Sp.OG. Bahkan satu minggu sebelum baksos, para mahasiswa ini juga mendapatkan pelatihan intensif selama satu hari bersama Dokter Fachry dan Tim Dokter lain dari RSIA Kendangsari.

Berbekal pengetahuan tersebut, mahasiswa pun menguasai prosedur skrining awal kanker serviks ini kepada masyarakat. Dari 12 orang yang diperiksa, 2 diantaranya menunjukkan hasil positif.

“Kami melakukan tindak lanjut dengan melaporkan ini ke Dinkes Surabaya agar segera tertangani. Bahkan Dokter Fachry juga mengatakan bahwa pihaknya sanggup mengobati dua pasien tersebut secara gratis di tempatnya berpraktik,” terangnya.

Untuk pemeriksaan katarak, tim KPLA juga dibantu oleh Alumni sekaligus senior, Eri Dewanto, dr., Sp.M. Dokter Eri juga membawa serta timnya dari Eri Dewanto Clinic untuk melakukan pemeriksaan katarak. Masyarakat yang mengalami keluhan katarak juga didata dan nantinya jika ada operasi gratis akan diikutsertakan.

Selain sebagai bentuk bakti kepada masyarakat, kegiatan ini juga sekaligus sebagai bentuk sarana belajar bagi mahasiswa. Apalagi selama pandemi ini, kesempatan untuk mendalami skill sangat terbatas, “sejujurnya ini juga sebagai sarana belajar kami. Dengan mengamati, melakukan tindakan langsung dengan disupervisi dokter senior, kami belajar sangat banyak,” terangnya.

Pembina KPLA, Bambang Pudjo Semedi, dr., Sp.An.KIC menambahkan, Kegiatan yang dinamakan Gelar Bhakti Aesculap ini merupakan kegiatan rutin tahunan dan kali ini sudah menginjak ke 32 Tahun. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini juga merekatkan hubungan antara alumni KPLA dengan kepengurusan saat ini.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengembangkan soft skill mahasiswa FK UNAIR
“Seorang dokter harus menguasai tiga hal, pengetahuan, soft skill dan attitude. Knowledge bisa didapatkan di bangku kuliah, tapi dua hal yang terakhir, susah jika tidak dihadapkan dengan pasien langsung. Bagaimana sikap mereka jika dihadapkan pada pasien dengan kultur, tingkat sosial ekonomi yang berbeda, itu perlu diasah. Dan salah satunya melalui hal ini,” tambahnya.

Karena untuk menguasai soft skill, bagaimana cara mereka menghadapi pasien dari berbagai latar belakang, bagaimana kemampuan berpikir, tidak cukup hanya melalui bangku kuliah saja. Diperlukan praktik ke lapangan seperti ini,” terangya.

Ke depan, Dokter Pujo berharap hasil dari baksos ini dapat terdata dengan rapid an menjadi masukan kepada Dinkes setempat. Atau bisa disimpulkan pendataan yang objektif yang nantinya diolah menjadi publikasi. (ISM)

Kiprah dan Kontribusi RSTKA dan FK UNAIR dalam Bencana Erupsi SemeruKiprah dan Kontribusi RSTKA dan FK UNAIR dalam Bencana Erupsi Semeru

Bencana Gunung Semeru yang terjadi pada sabtu 5 Desember 2021 sekitar pukul 14.50 WIB membuat Rumah sakit Terapung Ksatria Airlangga membentuk Tim Gabungan Unair peduli Bencana Erupsi Semeru. Sehari setelah kejadian, dilakukan Pemberangkatan tim survey dan dokter spesialis yang terdiri dari dokter umum, 2 spesialis Orthopedi dan 2 PPDS Orthopedi. Tim melakukan Rapid Health Assesment (RHA) pertama pada daerah-daerah yang terdampak, mendistribusikan BHP ke RSUD Pasirian Lumajang, dan kemudian mendirikan posko relawan di Desa Sumbermujur. Desa ini dipilih dikarenakan salah satu daerah yang cukup terdampak namun mempunyai zona aman untuk dilakukanya penanganan kesehatan.

Sempat terkendala kurangnya tim lapangan, pada senin (6/12/2021) dilakukan Pemberangkatan 3 Dokter umum dan 7 relawan non medis. Untuk memberikan penanganan yang lebih cepat, dilakukan juga koordinasi dengan relawan lokal untuk mengetahui kebutuhan pengungsi. Hingga selasa (7/12/2021) bisa dilakukanya Pengobatan di posko kesehatan dan pemeriksaan rumah ke rumah, Distribusi logistik ke rumah rumah warga, Pendataan logistic. Pada hari tersebut juga dilakukan Pemberangkatan 1 Dokter spesialis bedah plastik, 3 dokter umum dan relawan umum dari Surabaya. Banyaknya laporan luka bakar karena panasnya suhu sekitar gunung, dengan bantuan dokter spesialis bedah plastik kemudian bisa melakukan bantuaan penanganan Debridement, tangensial excision, & immediate skin graft di kamar operasi RS Haryoto.

Pembagian bantuan kepada pengungsi semeru

Tidak mudah, pengungsi erupsi banyak yang tidak ingin evakuasi menuju tenda pengungsi namun hanya mengungsi dan bertempat tinggal di teras rumah warga yang dirasa aman. Saat melakukan pemeriksaan ke rumah rumah, beberapa pengungsi sedang sibuk mengevakuasi barang-barang pribadinya, sehingga rumah-rumah pengungsian sepi. Beberapa penyakit yang ditemukan pada warga adalah ISPA, Hipertensi, Cephalgia, Dyspepsia, Konjungtivitis, Rhinitis, Gravida, Myalgia, dan masih banyak lagi. Walau posko kesehatan bertempat di Sumbermujur. Bantuan lainya juga tetap diberikan kepada daerah yang juga membutuhkan. 50 Selimut, 70 Pcs pasta gigi dan sikat gigi anak, 40 detergen, 1 Box susu prenagen, 1 box susu disalurkan ke pengungsian di Desa Tambahrejo, kec. Candipuro.

Pelayanan mental health kepada anak-anak terdampak bencana

Namun bukan hanya penangan kesehatan pertama yang dirasa dibutuhkan. Trauma healing center dirasa juga dibutuhkan, hingga akhirnya dibangun Trauma healing center di beberapa titik. Seperti di posko pengungsian SDN Sumbermujur 5 kepada 55 peserta, 106 anak PAUD dan TK daerah Sumbermujur bersama Kideco ESDM. Banyaknya relawan kesehatan yang datang tanpa diimbangi pembagian dan koordinasi yang matang juga akan menjadi suatu kendala. Saat homevisite keluarga dan pengungsi di desa Sumbermujur, banyak yang sudah diperiksa oleh tim kesehatan lain lebih dahulu, sehingga tim lebih berfokus pada pencarian lokasi yang belum terjaman oleh tim medis. Kendala lain adalah jalan antar desa macet terdampak oleh  mobil dan ambulance relawan sehingga menyebabkan terhambatnya mobilisasi. Sehingga untuk menjangkau rumah yang terpencil dibutuhkan tambahan moda transportasi motor agar mobilisasi dapat maksimal.

Penulis: Dinda Dwi Purwati dan Pandit Bagus Tri Saputra

Lebih dari 7,5% Pengungsi Semeru Alami Masalah Mata, FK UNAIR-RSTKA-RSDS Fokus Melakukan Prevensi dan KurasiLebih dari 7,5% Pengungsi Semeru Alami Masalah Mata, FK UNAIR-RSTKA-RSDS Fokus Melakukan Prevensi dan Kurasi

Relawan gabungan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) dan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo (RSDS) mendirikan Posko Relawan Kesehatan di Desa Sumbermujur, Lumajang pada bencara erupsi Semeru. Dengan membawahi sekitar 700 pengungsi, posko relawan ini berkerjasama dengan Dinas Kesehatan Lumajang dan beberapa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) terdekat Abu dan debu vulkanik yang sangat tebal menyebabkan sekitar 7,5% dari sekitar 300 pasien pada posko kesehatan menderita gangguan kesehatan mata. Seperti corpus allineum, konjugtivitis dan mata kering.

Door to door ke rumah warga yang berhalangan ke posko gabungan

Faktor resiko terbesar pada kesehatan mata ini adalah orang dewasa laki-laki. Dikarenakan masih banyak warga kembali menuju rumah pribadi yang terdampak untuk mengambil barang-barang berharga yang bisa diselamatkan. Kegiatan ini dilakukan tanpa adanya alat pengaman seperti boots, google, sarung tangan, dan masker. Dilaporkan banyak kejadian tersebut dikarenakan mudahnya rusak peralatan pengamanan sebab panasnya suhu disekitar gunung semeru.

Dilaporkan terdapat pasien yang menderita corpus allineum selama 3 hari baru kemudian menuju posko kesehatan. Pasien merasa matanya mengalami gelap dan buram tiba-tiba. Dibantu oleh satuan petugas pengamanan setempat, pasien berkeliling untuk mencari posko kesehatan. Dilakukan penanganan ekstraksi corpus allineum pada konjungtiva pasien agak bisa terlepas debu yang sudah menumpuk di mata.

Pelayanan kesehatan terhadap ibu dan anak yang mengalami keluhan

Dengan dasar banyaknya kejadian tersebut, FK UNAIR- RSTKA melakukan pembagian APD, boots, google, sarung tangan, dan masker bagi warga yang ingin melakukan evakuasi barang-barang. Penyaluran APD berupa 10 buah masker N95, 10 pasang sepatu boot, 5 buah goggles, 1 box masker medis dan 1 buah Hazmat. Kegiatan ini juga berkoordinasi dengan posko kesehatan lainya, Dinas Kesehatan, dan BPPD untuk dilakukan pengadaan. Selain pembagian APD juga dilakukanya pertolongan awal kepada pasien. Setelah dilakukan evaluasi dan dirasa mebutuhkan penanganan lebih lanjut, akan dilakukan rujukan menuju RSUD Basirian yang berjarak 15 Km dari Posko Relawan Kesehatan.

Tim Gabungan FK UNAIR – RSTKA – RSDS

Kejadian erupsi ini menimbulkan masyarakat Indonesia yang berlomba untuk melakukan donasi dan bantuan relawan. Namun terlihat masih banyaknya overload pada satu tempat dan satu waktu. Diharapkan dilakukanya pembagian dan penjadwalan yang baik mengenai donasi dan relawan kesehatan. Agar seluruh pasokan dan relawan bisa melakukan full standby sampai bencana selesi dan tidak hanya bertumpuk di beberapa hari awal bencana.

Penulis: Dinda Dwi Purwati dan Pandit Bagus Tri Saputra

Perangi ISPA di Tengah Erupsi Semeru dan Pandemik COVID, Tim Gabungan FK UNAIR-RSTKA-RSDS Tegakkan Posko BencanaPerangi ISPA di Tengah Erupsi Semeru dan Pandemik COVID, Tim Gabungan FK UNAIR-RSTKA-RSDS Tegakkan Posko Bencana

Tim gabungan yang terdiri dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo (RSDS) dan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) mengirimkan menuju pengungsian Semeru sejak 5 Desember 2021. Pemberangkatan untuk melakukan survey awal dilakukan oleh dokter umum, 2 spesialis Orthopedi dan 2 PPDS Orthopedi. Program relawan ini kemudian mendirikan posko relawan di Desa Sumbermujur dengan total terdapat 700 pengungsi.

Door to door dalam pelayanan kesehatan ISPA pada balita

Kesadaran masyarakat akan bahaya erupsi sebuah gunung meletus masih sangat rendah. Padahal abu vulkanik akan terhirup dan mudah untuk menempel ke dalam organ paru-paru yng bersifat basah disertai oksigen yang berlimpah. Permasalahan seperti ini akan mudah menganggu Kesehatan terutama mengenai pernafasan. Terhitung 20% dari pasien yang mendatangi posko relawan RSTKA atau sekitar lebih dari 100 pasien terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

ISPA sendiri merupakan gangguan pernafasan berupa peradangan yang menyerang saluran pernafasan. Saluran tersebut bisa meliputi hidung, sinus, faring, laring. Berbagai macam gejala yang dikeluhkan apabila terkena ISPA dan telah dilaporkan ditemukan pada pengungsi, yaitu batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, nyeri kepala hingga demam. Keadaan ini bisa diperparah dengan keaadan cuaca yang ekstrem. Desa Sumbermujur sendiri mengalami cuaca dingin dengan suhu mencapai 20⸰ Celcius disertai hujan hampir setiap harinya.

Pembagian masker dan edukasi sebagai pencegahan primer ISPA 

Pasien ISPA posko Kesehatan RSTKA ditemukan pada pengungsi dewasa laki-laki yang masih banyak kembali ke rumah yang telah terdampak untuk mencari dan mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Kondisi ini diperparah dengan banyak pengungsi yang tidak ingin berpindah menuju tenda pengungsian dan hanya bertahan hidup di teras-teras rumah warga. Dikhawatirkan akan semakin terdampak abu dan cuaca yang sangat kurang bersahabat.

Dengan keadaan yang cukup menkhawatirkan seperti ini Relawan dan Posko Tim Gabungan melakukan berbagai hal untuk membantu menuntaskan permasalahan ISPA. Pasien yang dating ke posko relawan akan diberikan penanganan pertama, oksigen, dan infus. Jika dirasa sebuah kasus berat atau suspect COVID19, akan langsung dilakukan perujukan ke rumah sakit terdekat. Hal ini berkoordinasi dan dibantu oleh Dinas Kesehatan. Selain itu juga dilakukan tindakan pereventif. Dimulai dari homevisit dan screening penyakit di masyarakat, edukasi dan pembagian masker, serta Menilai kelayakan posko dan rumah warga di bidang Kesehatan lingkungan seperti Kecukupan sumber air, kelembapan udara, ventilasi dan vektor.

Pembagian masker dan edukasi sebagai pencegahan primer ISPA 

Setelah dilakukan kegiatan preventif dan kuratif didapatkan trend kasus yang tidak meningkat walaupun masih ditemukan beberapa pasien. Selanjutnya direnakan terdapat sosialisasi rinci terkait ISPA dan Kembali terdapat penggencaran masal mengenai penggunaan masker. Diharapkan erupsi akan bisa segera berakhir dan kasus Kesehatan bisa segera membaik.

Penulis: Dinda Dwi Purwati dan Pandit Bagus Tri Saputra

Residen Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Terpilih untuk Presentasi PadaThe 41st Congress of the Société Internationale d’Urologie (SIU) di DubaiResiden Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Terpilih untuk Presentasi PadaThe 41st Congress of the Société Internationale d’Urologie (SIU) di Dubai

Residen Program Pendidikan Dokter Spesialis Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Yudhistira Pradnyan Kloping sukses mengalahkan ribuan submission abstrak dari seluruh dunia dan melakukan Presentasi pada acara The 41st Congress of the Société Internationale d’Urologie (SIU) di Dubai 10 – 14 November 2021. Bertempat di Dubai International Convention and Exhibition Centre, acara ini diselenggarakan oleh The Société Internationale d’Urologie yang merupakan salah satu organisasi Urolog internasional terbesar yang dibentuk pada tahun 1907 di Paris, Perancis oleh Dr. Jean Casimir Félix-Guyon. Acara ini dihadiri oleh para urolog dari 130 Negara di seluruh dunia.

“Sejak semasa dokter muda saya sudah sangat tertarik dengan organisasi urologi terbesar di dunia ini. Saat itu berfikir sayang jika hanya bisa mengikuti kongress sebagai partisipan. Jadi saya meyakinkan diri suatu hari saya harus bisa menulis untuk submit dan presentasi disana. Bersyukur ternyata bisa terwujud saat ini” ungkap dokter Yudhistira.

Tidak sendirian, penelitian meta-analisis dengan judul The Detrimental Impact of SARS-CoV-2 on Sperm Parameters ini juga dilakukan bersama tim yaitu dokter dr. Furqan Hidayatullah dan dr. Zakaria Rahman serta dokter pembimbing dokter Lukman HakimSpU (K), MARS, Ph.D. Walaupun keberangkatan sempat terkendala kondisi pandemi, dengan moderator Ahmad Hammady asal Mesir dan Rajeev Sood asal India dokter yudhistira sukses melakukan presentasi.  Presentasi beliau sempat membuat kaget audience karena hanya seorang residen tahun pertama spesialis urologi disaat semua presenter adalah professor atau urolog terkenal. Selain presentasi 50 abstrak dari submission terpilih, banyak kegiatan menarik yang dilaksanakan dalam acara ini. Seperti symposium dan lokakarya dengan berbagai topik menarik dan terbaru.

“Bersyukur bisa mendapatkan feedback baik saat presentasi. Hal paling tak terlupakan di acara ini bukan hanya perihal update keilmuan urologi, namun juga bisa berdiskusi dan menambah relasi serta koneksi dengan berbagai urolog dari berbagai macam negara” jelas dokter Yudhistira.

Melihat banyak presentasi penelitian yang terasa masih susah dilakukan di Indonesia, Dokter Yudhistira bercita-cita untuk bisa terus banyak melakukan penelitian selevel dengan negara-negara luar. Ini bukan hanya perihal membawa nama negara ke forum internasional tapi juga bermanfaat untuk masyarakat Indonesia. Saat ini informasi mengenai kongres internasional sudah banyak tersedia di internet, diharapkan semakin banyak calon dokter maupun non dokter yang bisa mendapatkan kesempatan untuk berprestasi di kancah internasional.

Penulis: Dinda Dwi Purwati dan Pandit Bagus Tri Saputra

Prestasi Residen Fakultas Kedokteran UNAIR di Kongres Dunia World Meeting on Sexual Medicine (WMSM) 2021Prestasi Residen Fakultas Kedokteran UNAIR di Kongres Dunia World Meeting on Sexual Medicine (WMSM) 2021

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kembali mengirimkan putra terbaiknya untuk presentasi di tingkat Internasional. Dari ratusan abstrak dan peserta dari berbagai negara, Yudhistira Pradnyan Kloping berhasil menembus 50 besar dan terpilih untuk presentasi pada World Meeting on Sexual Medicine (WMSM) 2021 ke-22 yang dilaksanakan pada 19-21 November 2021.  Acara tersebut dilaksanakan oleh The International Society for Sexual Medicine (ISSM), merupakan organisasi dunia yang berdiri sejak tahun 1982 dan berorientasi pada seluruh bidang seksualitas manusia.

“Studi meta-analisis ini mengevaluasi penggunan teknik seksual untuk mengeluarkan batu ureter bagian distal. batu dengan ukuran kurang dari 10 mm bisa dikeluarkan secara spontan melalui koitus atau masturbasi. Hasilnya signifikan, persentase ekspulsi batu lebih tinggi pada minggu ke- 2 dan 4 dengan waktu ekspulsi yang lebih singkat dibandingkan kelompok kontrol” Jelas dokter Yudhistira Pradnyan Kloping.

Dengan penelitian berjudul “Pleasurable ways to spontaneously expulse distal ureteral stones: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials” selain bersama Tim dan pembimbing dari Indonesia yaitu dr. Furqan Hidayatullah, dr. Zakaria Aulia Rahman, serta Dr. Lukman HakimSp.U(K), MARS, PhD, penelitian ini juga berkolaborasi dengan Prof. Eric Chung berasal dari Princess Alexandra Hospital, University of Queensland.

“Pengalaman menarik karena saya melakukan presentasi ditengah kewajiban karantina. Ternyata internet hotel tidak cukup memadai untuk masuk ke dalam aplikasi meeting. Sehingga saya hanya mengandalkan tethering dan berharap tidak ada telfon masuk ditengah presentasi agar signal tidak terganggu” cerita dr. Yudhistira yang harus menjalani karatina sepulang melakukan presentasi di Dubai.

Yudhistira berharap penelitian ini kedepanya bisa menjadi pedoman yang digunakan dalam praktik sehari-hari agar bermanfaat untuk masyarakat luas. Diharapkan kepada sejawat kedokteran dan seluruh mahasiswa untuk berani berprestasi di tingkat Internasional. Jangan pernah takut untuk mencoba karena akan selalu ada “first time for everything” di hidup kita. Bukan perihal hasil, tetapi bagaimana kita berjuang untuk terus maju, tumbuh, dan berkembang.

Penulis: Dinda Dwi Pratiwi dan Pandit Bagus Tri Saputra