Hari: 18 November 2023

121st AWCS “Proper Preparation Prevents Problems to Get Exercise Benefits”121st AWCS “Proper Preparation Prevents Problems to Get Exercise Benefits”

You are invited to

121st Airlangga Webinar Conference Series (AWCS) & Road to Medic Air Run

Topic:
Proper Preparation Prevents Problems to Get Exercise Benefits

Saturday, July 8th 2023
09.00 – 10.20 WIB (GMT+7)
Via Zoom Webinar

Register at s.id/awcs121

After registering, you will receive a confirmation email containing information about joining the webinar

Opening Remark:

MC: Arya Satya Rajanegara, dr.
Moderator:
Firyal Nadiah Rahmah, dr., M.Biomed

Speakers:
? Wiwin Is Effendi, dr., Sp.P(K), Ph.D
Department of Pulmonology and Respiratory Medicine, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Rutin Lari Untuk Pernapasan Sehat

? Abdul Jabbar Al Hayyan, dr., Sp.KFR
Department of Physical Medicine and Rehabilitation, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
“Exercise Injuries: How to Prevent and Manage It?”

Kuliah Tamu Profesor dari AustraliaKuliah Tamu Profesor dari Australia

Konsultan endokrinologi anak dari The Royal Children Hospital, Australia, Prof. Dr. Margaret Zacharin, MD, PhD mengisi kuliah tamu (guest lecture) di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Senin, 03 Juli 2023.

Ia membawakan materi mengenai berbagai gangguan sistem endokrin pada anak. Diantaranya amenorrea. Suatu kondisi tidak terjadinya menstuasi pada perempuan di usia produktif. Juga penyakit-penyakit lain seperti hiperkalsemia.

Kuliah tamu yang diselenggarakan Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) FK Unair – RSUD Dr. Soetomo ini diikuti secara antusias oleh Dokter Muda (DM) dan PPDS. Kelas berlangsung interaktif. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan.

Selain Prof, Margaret, kuliah tamu ini juga diisi oleh ahli kesehatan anak dari Departemen IKA. Diantaranya Dr. dr. Muhammad Faizi, Sp.A(K) Dr. dr. Nur Rochmah, Sp.A(K). Keduanya juga menyampaikan topik yang serupa seperti diabetes meliitus pada anak dan pubertas.

Guest lecture ini berlangsung selama dua hari. Sebelumnya, kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 02 Juli 2023 di tempat yang sama.

Dekan FK Unair, Prof.Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG, Subsp. F.E.R turut mengapresiasi kegiatan ini.

“Kegiatan ini baik sekali sebagai ajang transfer ilmu kepada peserta didik baik DM maupun PPDS. Paparan dari dosen di luar lingkup kampus akan memperkaya pengetahuan dan wawasan untuk tatalaksana penanganan penyakit pada anak,” terangnya.

Ini juga sejalan dengan misi FK UNAIR ke depan untuk menjadi fakultas Kedokteran bertaraf internasional. Di mana transfer ilmu tidak hanya didapatkan dari dosen-dosen dalam negeri, tapi juga dosen luar negeri.

“Kami senang karena semakin banyak dosen luar negeri yang memberi kuliah tamu untuk mahasiswa di Fakultas Kefokteran,” ujarnya.

Hal ini selain partisipasi departemen untuk menggandeng mitra dosen luar negeri juga karena FK UNAIR yang terus berupaya menambah jumlah adjunct professor atau dosen mitra luar negeri. Salah satu tanggung jawab adjunct professor ini memberikan kuliah kepada mahasiswa FK UNAIR.

Penulis : Ismaul Choiriyah

Tetap Kokoh, Aula FK Unair Berusia 100 Tahun –Tetap Kokoh, Aula FK Unair Berusia 100 Tahun –

Sebagai salah satu fakultas kedokteran tertua kedua di Indonesia, FK UNAIR memiliki banyak bangunan cagar budaya. Salah satunya Gedung Aula FK UNAIR yang pada Bulan Juli 2023 ini memasuki usia 100 tahun.

Gedung ini masuk dalam sejarah panjang perjalanan sekolah kedokteran di Surabaya. Yang mana pada masa pemerintah Kolonial Belanda berdiri sebuah sekolah kedokteran yang dinamai dengan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS).

“Keberadaan sekolah kedokteran di Surabaya itu mendahului (berdirinya) dari gedung ini. Karena sekolah kedokteran itu mulai berdiri tahun 1913 yang disebut NIAS itu. Yang dulu awalnya berada di Kedungdoro,” terang Dekan FK Unair, Prof Dr. Budi Santoso dr., Sp. OG, Subsp. F.E.R (K) usai acara peringatan 100 tahun Aula FK, Rabu, 5 Juli 2023.

Kemudian pada tahun 1923, NIAS pindah ke bangunan baru di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo yang menjadi FK Unair sekarang.

Dekan FK UNAIR Prof Dr. Budi Santoso dr., Sp. OG, Subsp. F.E.R (K) saat memberi sambutan di acara Peringatan 100 Tahun Aula FK UNAIR, Rabu (05/07)

Gedung FK Unair peninggalan NIAS yang hingga kini masih kokoh berdiri mencakup aula, hingga bangunan di samping kanan dan kiri aula. Selain itu, juga ada Ruang Kuliah Propadause yang berusia sama.

Dekan yang akrab disapa Prof Bus ini tak menampik jika Gedung Aula FK Unair tak 100 persen seperti bangunan aslinya. Namun dia menjamin jika keaslian gedung ini mencapai di atas 90 persen.

“Kalau keaslian 100 persen tidak ya. Mungkin di atas 90 persen, iya, tambahnya.

Adapun bagian yang sudah tidak asli terletak pada penggunaan cat untuk plafon atap. Prof Budi menuturkan jika aslinya plafon atap menggunakan plitur kayu. Sementara saat ini menggunakan cat.

“Permintaan Almarhum Prof Sudarso saat beliau masih sugeng (hidup), beliau berpesan agar sebaiknya dikembalikan seperti dulu, ”lanjut dekan.

Dekan mempertimbankan masukan yang diberikan. Pengembalian ke tampilan lama akan menambah keotentikan bangunan.

Kendati demikian, untuk mengembalikan dari cat ke bentuk asli tidak semudah itu. Diperlukan proses pembakaran sehingga cat yang masuk ke pori-pori plafon bisa lepas. Baru kemudian diplitur.

“Padahal ruangan ini penggunaannya sangat padat. Setiap hari bergantian digunakan untuk kegiatan. Sehingga nanti akan diluangkan waktu andaikan nanti akan dipugar,” tambahnya.

Penulis : Ismaul Choiriyah

Menyimpan Banyak Sejarah, Aula FK UNAIR Genap Berusia Satu Abad –Menyimpan Banyak Sejarah, Aula FK UNAIR Genap Berusia Satu Abad –

Bulan Juli ini, Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) genap berusia satu abad. Bangunan yang menjadi saksi bagi momen-momen sakral mahasiswanya ini memperingati ulang tahun ke 100 nya ini pada 5 Juli 2023.

“Momen-momen penting mahasiswa FK Unair selalu terjadi di Aula ini. Dari mulai saat mahasiswa baru disambut hingga dilantik menjadi dokter semua dilakukan di sini,” terang Dekan FK Unair, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.O.G., Subsp.F.E.R dalam sambutan di peringatan 100 tahun aula FK UNAIR.

Untuk menjaga kualitas lulusannya, Mahasiswa Prodi Kedokteran FK UNAIR harus melalui tiga kali yudisium sampai mereka menamatkan Pendidikan S1. Momen yudisium dan Penyerahan Hasil Studi (PHS) selalu bertempat di Ruang Aula. Perasaan was-was saat menantikan nilai diumumkan, kegembiraan saat dinyatakan lulus maupun tangis ketida harus mengulang direkam oleh dinding dan langit-langit gedung bergaya Indische ini.

“Di momen yudisium, mahasiswa biasanya duduk di selasar depan menunggu waktu untuk dipanggil ke dalam Aula,” tambahnya.

Bahkan saat memasuki masa Dokter Muda (DM), mereka akan dilantik dan diambil sumpahnya di Gedung Aula. “Saya tadi mendapatkan Informasi dari Prof Djohansyah, wisuda pertama Unair juga dilaksanakan di ruang ini atau di depan,” ungkap Prof Budi.

Sesi Foto bersama usai acara Peringatan 100 Tahun Aula FK UNAIR dengan jajaran Dekanat, Mantan Dekan FK UNAIR periode sebelumnya, dan para Guru Besar yang hadir pada acara tersebut

Karena kesakralannya juga, tak semua kegiatan bisa dilaksanakan di ruang aula ini. Selain momen-momen di atas, Gedung ini hanya bisa dimanfaatkan untuk prosesi penghormatan terakhir guru besar, ujian doktor terbuka, pengukuhan adjunct professor dan olimpiade tahunan yang digelar mahasiswa.

Di dalam Gedung Aula ini terdapat dua prasasti. Di sisi kiri merupakan prasasti saat persmian universitas Airlangga yang ditandatangani oleh Prof Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan Indonesia pertama. Sementara di sebelah kanan merupakan prasasti yang ditandatangani oleh Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno.

Meski usianya tak lagi muda, ruang aula FK UNAIR masih tampak megah. Dari luar bangunan yang menjadi pusat area FK UNAIR ini tampak kokoh dan gahar dengan dinding berwarna putih. Begitupun interiornya. Deretan podium dari kayu jati, lengkung demi lengkung langit-langit, dinding serta lampu-lampunya memamerkan keanggunan.

“Saya terus terang selalu merinding masuk ke sini. Selain bangunannya yang megah, ini juga menjadi pengingat perjuangan menjadi dokter. Saya 50 tahun yang lalu masuk ke sini, semua pernah saya alami, lulus langsung pernah, her (mengulang) juga sering. Seperti yang dikatakan Prof Bus tadi, ini tempatnya eksekusi yudisium,” kenang alumni senior FK Unair, Dr. dr. Poedjo Hartono, SpOG(K).

Aula FK UNAIR ini berdiri sejak tahun 1923 bersama dengan adanya Pendidikan Dokter Pertama di Surabaya yang dulunya disebut dengan NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School). Selain Aula, beberapa bangunan di FK UNAIR juga merupakan bangunan heritage dan berusia serupa. Diantaranya Ruang Kuliah Propadause dan Ruang Kuliah Anatomi.Laboratorium Anatomi, Ruang Kuliah Patologi Anatomi dan laboatoriumnya. Serta Ruang Kuliah Biokimia (Faal) dan Laboratoriumnya.
Penulis : Ismaul Choiriyah

Berusia Satu Abad, Aula FK UNAIR Masuk Bangunan Cagar Budaya –Berusia Satu Abad, Aula FK UNAIR Masuk Bangunan Cagar Budaya –

Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) merupakan bangunan cagar budaya. Artinya, sebuah warisan budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan.

Aula FK UNAIR ini mulai difungsikan pada tahun 1923 dan merupakan bagian dari NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), Sekolah kedokteran pertama di Surabaya.

Bulan Juli ini, Aula FK Unair memasuki usia satu abad. Sebagai bentuk suka cita, pertambahan usia ini dirayakan dengan serangkaian acara dari tanggal 4 hingga 5 Juli 2023.

Dekan FK Unair, Prof Dr. Budi Santoso dr., Sp. OG, Subsp. F.E.R (K) mengungkapkan, Gedung Aula FK Unair tak 100 persen seperti bangunan aslinya. Namun dia menjamin jika keaslian gedung ini mencapai di atas 90 persen.

“Kalau keaslian 100 persen tidak ya. Mungkin di atas 90 persen, iya, terangnya seusai Acara Peringatan 100 tahun Aula FK Unair, Rabu, 06 Juli 2023.

Karena berstatus sebagai bangunan cagar budaya, FK Unair sangat berhati-hati dalam pemeliharaan. Pengecatan bagian luar dilakukan secara berkala tanpa mengubah keotentikan bangunan.

“Pada tahun 2022 lalu sempat kami cat ulang aula bagian luar sehingga terlihat makin segar,” ujarnya.

Adapun bagian yang sudah tidak asli terletak pada penggunaan cat untuk plafon atap. Prof Budi menuturkan jika aslinya plafon atap menggunakan plitur kayu. Sementara saat ini menggunakan cat.

“Permintaan Almarhum Prof Sudarso saat beliau masih sugeng (hidup), beliau berpesan agar sebaiknya dikembalikan seperti dulu, ”lanjut dekan.

Kendati demikian, untuk mengembalikan ke bentuk semula ini juga perlu teknik khusus yakni dengan dibakar. Sehingga cat yang masuk ke dalam pori-porinya ini hilang. Baru kemudian diplitur.

“Padahal ruangan ini penggunaannya sangat padat. Setiap hari bergantian digunakan untuk kegiatan. Sehingga nanti akan diluangkan waktu andaikan nanti akan dipugar,” tambahnya.

Prof Budi melanjutkan pihaknya pun tidak bisa sembarangan merenovasi gedung. Pasalnya, gedung FK Unair saat ini sudah berstatus sebagai cagar budaya.

“Kami terus bekerja sama dengan arsitek, ahli sejarah, maupun Pemkot Surabaya untuk pemeliharaan gedung,” tuturnya.

FK UNAIR pada tahun 1970, sumber foto : ig @potolawas, Koleksi Harrison Forman

Sementara itu Freddy Istanto, pemerhati bangunan cagar budaya sekaligus founder Surabaya Heritage menuturkan, bukan hal yang mudah bisa mempertahankan bangunan cagar budaya dengan keaslian di atas 90 persen, hingga berusia 100 tahun.

“Ini harus dijaga karena menjadi ikon. Bangunan cagar budaya itu tidak boleh membeku, tapi perlu dikembangkan lagi di masa kini,” ujarnya saat dijumpai Basra dalam kesempatan yang sama.

Freddy mengungkapkan jika Surabaya mempunyai titik-titik bangunan kolonial bersejarah, dan gedung FK Unair menjadi salah satunya.

“Kota itu ibaratnya museum. Kota memang harus maju tapi catatan peristiwa lampau di dalamnya harus tetap ada (lewat gedung-gedung peninggalan masa lampau),” tukasnya.

“Tidak banyak bangunan bersejarah yang bisa bertahan. Karena kemajuan teknologi akhirnya bangunan itu dibongkar saja. Saya berharap bangunan (FK Unair) ini bisa terus dirawat keberadaannya,” tukasnya.

Penulis : Ismaul Choiriyah

CIMSA Kembali Hadirkan Mahasiswa Asing Ke FK UNAIR –CIMSA Kembali Hadirkan Mahasiswa Asing Ke FK UNAIR –

Organisasi mahasiswa CIMSA (Center for Indonesian Medical Students’ Activities) kembali menghadirkan mahasiswa asing untuk belajar ke FK Unair. Bulan Juli ini, ada 14 mahasiswa dari berbagai negara datang. Mereka disambut di Aula FK UNAIR, Jumat, 7 Juli 2023.

Kali ini, Sebagian besar mahasiswa datang dari Eropa. Seperti Spanyol, Polandia, Prancis, Malta, Finlandia dan Norwegia. Selain itu, juga ada satu mahasiswa yang datang dari Taiwan.

Satu Westerholm, mahasiswa dari Finlandia berharap, melalui kegiatan ini, mereka bisa memperluas pengalaman terutama dalam menangani pasien. Serta mempelajari beberapa kasus penyakit tropis yang ada di Indosia.

“Saya bersemangat untuk segera bergabung dengan teman-teman dari FK Unair dan belajar Bersama,” ujarnya.

Beberapa mahasiswa asing yang memberi sambutan saat acara penyambutan mahasiswa asing oleh CIMSA FK Unair

14 mahasiswa ini dibagi dalam dua program, yakni riset dan perkuliahan., Mahasiswa yang mendaftar untuk program riset akan bergabung dalam grup penelitian.

Sementara mahasiswa yang memilih program perkuliahan akan mengikuti rotase Dokter Muda (DM) bersama mahasiswa FK Unair yang lain di Rumah Sakit. Mereka akan mengikuti rotasi di beberapa departemen. Diantaranya ke Departemen Bedah Umum, Pediatri, Bedah Saraf dan Penyakit Dalam.

“Saya berharap, kegiatan ini memberikan banyak manfaat keilmuan untuk para mahasiswa yang datang. Dan ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan di sini bisa diimplementasikan saat Kembali ke kampus masing-masing,” terang Wakil Koordinator Lokal Urusan Luar Negeri, CIMSA UNAIR, Valiant Ezekiel.

Wakil Office International Affair (OIA) Fk Unair, Annette d’Arqom, dr., M.Sc juga menyambut baik kedatangan mahasiswa ini. Ia berharap mahasiswa ini cepat beradaptasi di Surabaya. Baik dari iklim dan lingkungan. Ia juga menitipkan beberapa pesan agar selalu menjaga diri dan sikap saat berada di FK Unair.

Selain 14 mahasiswa ini, juga ada tiga mahasiswa dari University of Lille yang akan mengikuti rotasi DM di FK UNAIR.

Dalam kesempatan yang sama, FK UNAIR juga melepas dua DM yang sudah menuntaskan rotasi DM nya di FK UNAIR.

Penulis : Ismaul Choiriyah

Mahasiswa Universitas Lille, Prancis Belajar di FK UNAIR –Mahasiswa Universitas Lille, Prancis Belajar di FK UNAIR –

Tiga mahasiswa dari University of Lille, Prancis mengikuti rotasi Dokter Muda (DM) di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR).. Mereka antara lain Margaux Josseline, Wissal Djemana Mabrouki dan Clementine Wibaut.

Selama satu bulan, mereka akan bergabung dalam rotasi DM di RSUD Dokter Soetomo dan RS Unair Bersama mahasiswa lain.

Departemen yang dituju beragam. Mulai dari Departemen Neurologi, Ilmu Kesehatan Anak, Obstetri & Ginekologi, serta Ilmu Penyakit Dalam.

Kehadiran mahasiswa Universitas Lille ini disambut bersamaan dengan 14 mahasiswa pertukaran pelajar lain yang dikoordinasi oleh organisasi mahasiswa CIMSA.

“Mengambil studi elektif ini tentu tidak mudah apalagi kami memiliki tantangan dalam perbedaan bahasa. Kami berharap, studi yang akan kami jalani di sini berjalan lancar,” ujar Margaux saat acara penerimaan mahasiswa inbound di Aula, Jumat, 07 Juli 2023.

FK UNAIR menjalin hubungan baik dengan University of Lille. Salah satu bentuk Kerjasama yang terus berjalan adalah dengan memfasilitasi pertukaran pelajar untuk mahasiswa.

Inaugurasi Adjunct Profesor Prof. Rob G.H.H. Nelissen, MD, PhDInaugurasi Adjunct Profesor Prof. Rob G.H.H. Nelissen, MD, PhD

Faculty of Medicine Universitas Airlangga
respectfully request of your presence to attend and participate
in the

INAUGURATION OF
Prof. Rob G.H.H. Nelissen, MD, PhD
from Leiden University Medical Center (LUMC), The Netherlands

as the adjunct professor of
Faculty of Medicine, Universitas Airlangga, Indonesia

on Thursday, July 13th 2023
09.00 – 11.00 (GMT +7)

Online via Zoom https://s.id/AdjunctProfessorNelissen
Offline at Aula FK Unair

Angkat Isu Stunting, Ratusan Mahasiswa FK UNAIR Berangkat Pengmas Ke Pasuruan –Angkat Isu Stunting, Ratusan Mahasiswa FK UNAIR Berangkat Pengmas Ke Pasuruan –

Selama tiga hari ini, 360 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) mengadakan pengabdian masyarakat (Pengmas) di Desa Jimbaran, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Mereka akan melakukan serangkaian kegiatan. Mulai dari penyuluhan kesehatan hingga memberikan layanan pengobatan gratis ke masyarakat.

Sebagai calon tenaga kesehatan, pengmas ini menjadi salah satu wujud perhatian mahasiswa FK UNAIR pada masalah kesehatan di Indonesia. Karenanya, stunting menjadi tema yang diangkat kali ini. Mengingat saat ini pemerintah sedang berupaya untuk menekan angka stunting.

Stunting sendiri merupakan keadaan anak tumbuh pendek atau sangat pendek yang disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi maupun infeksi kronis yang terjadi selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Karenanya edukasi kepada masyarakat mengenai stunting ini kami lakukan. Harapannya, melalui pengetahuan yang didapatkan, masyarakat bisa menekan angka stunting setidaknya dari lingkup keluarga sendiri. Dengan memberikan nutrisi yang dibutuhkan anak sesuai tumbuh kembangnya,” ujar Ketua Panitia

Acara, Berliana Salsabila ditemui seusai upacara pemberangkatan baksos oleh Wakil Dekan 1 di Ruang Kuliah Propadause FK UNAIR, Kamis, 13 Juli 2023.

Selain penyuluhan kesehatan, pada Hari Minggu nanti mahasiswa juga akan mengadakan layanan pengobatan gratis kepada warga. Layanan yang diberikan mulai pemeriksaan kesehatan umum, cek tensi dan kadar kolesterol serta pemberian obat.

Dalam pemeriksaan kesehatan ini, mahasiswa juga akan menyiapkan sembako gratis kepada masyarakat yang hadir memeriksakan diri.

Kegiatan ini merupakan acara puncak dari bakti sosial mahasiswa FK UNAIR semester empat yang dinamai dengan Baksos STIMULATOR. Rangkaian pembukaan baksos ini dimulai pada bulan lalu dengan mengundang anak berkebutuhan khusus dari berbagai sekolah di Surabaya untuk berkreasi bersama.

“Baksos angkatan ini merupakan agenda rutin mahasiswa semester empat. Di mana mahasiswa secara kolektif diharapkan untuk mengabdi kepada masyarakat,” tambahnya.

Dosen Pembimbing, Dr. Sulistiawati, dr. M. Kes menyebutkan, pengabdian masyarakat ini menjadi kesempatan bagi calon dokter dan bidan dari FK UNAIR untuk berkontribusi ke masyarakat. Ini juga sebagai ajang untuk melatih mahasiswa untuk terjun langsung menangani pasien.

“Baksos ini mencakup muatan keterampilan medis (Tramed) dan juga melatih kemampuan bermasyarakat adik-adik mahasiswa. Karenanya sebelum berangkat saya pesankan agar adik-adik menguasai materi dengan baik,” pintanya dalam sambutan.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Wakil Dekan 1 FK UNAIR, Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dr., Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. Onk.(K), “Kami berharap kedatangan adik-adik mahasiswa FK UNAIR ini memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat di Desa Jimbaran,” terangnya.

Lebih lanjut, Wakil Dekan mengusulkan agar kegiatan baksos bisa dilakukan berkelanjutan. Artinya mahasiswa bisa membimbing satu daerah secara kontinyu dalam rentang waktu tertentu. Sehingga dampaknya akan lebih terasa ke masyarakat.

“Kegiatan pengmas mahasiswa FK UNAIR kan banyak. Ada pengmas Angkatan seperti ini, dari BEM, maupun organisasi mahasiswa. Akan lebih baik jika semua ini disinergikan untuk membina satu desa. Ini impactnya akan jauh lebih besar karena adik-adik akan membawa peradaban yang baru untuk masyarakat,” tukasnya.

Penulis : Ismaul Choiriyah

FK UNAIR Kembali Kukuhkan Guru Besar dari Belanda –FK UNAIR Kembali Kukuhkan Guru Besar dari Belanda –

Setelah Mei lalu mengukuhkan guru besar mitra ( Adjunct Professor ) dari Belanda, Kemarin, 13 Juli 2023 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) kembali mengukuhkan guru besar dari negeri kincir angin tersebut.

Kali ini adalah Prof. Rob G.H.H. Nelissen, MD, PhD. Ia merupakan ahli bedah orthopaedi yang mengepalai Departemen Orthopaedi dari Leiden University Medical Center (LUMC) Leiden, Belanda.

Reputasi Prof Nelissen di bidang riset sudah diragukan lagi. Ia menghasilkan publikasi terindeks scopus lebih dari 450 publikasi dan indeks-H 72 serta jumlah sitasi sebanyak 200.023. Selama meneliti, ia telah banyak memenangkan penghargaan dan hibah riset bernilai jutaan Euro selama karirnya.

“Kapasitas dan kualitas beliau ini tentunya akan dapat memberi dampak positif untuk UNAIR sehingga bisa makin meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi UNAIR di level dunia,” ungkap Wakil Dekan 3, Dr. Sulistiawati, Dr. M.Kes ditemui seusai acara.

Selain sebagai guru besar orthopedi di LUMC, Prof Nelisen juga menjabat sebagai profesor bidang teknik biomedis di Delft University of Technology. Di sini dia berkontribusi aktif dalam mengembangkan inovasi-inovasi di bidang kesehatan.

Luaran produk ini juga menjadi salah satu hal yang diharapkan dari kolaborasi dengan Prof Nelisen.

“Tentunya kami juga mengharapkan untuk mengembangkan sebuah teknologi di bidang orthopaedi & traumatologi nantinya. Sehingga departemen kami memiliki alat untuk menunjang Pendidikan dan pelayanan ke masyarakat,” tambah Kepala Departemen Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran (FK) Unair – RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tri Wahyu Martanto dr., SpOT(K).

Diangkat menjadi adjunct professor di FK UNAIR menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi Prof Nelissen. Ia bersemangat untuk segera berkolaborasi dan menularkan ilmu dan pengalamannya kepada dokter dan mahasiswa FK UNAIR.

Satu hal yang akan ia tekankan adalah bagaimana meningkatkan pola berpikir kritis kepada mahasiswa juga kepada sesama dokter. Menurutnya proses transfer ilmu tidak bisa serta merta diterima langsung antara dosen sebagai pemberi ilmu dan mahasiswa yang menerima. Proses ini seharusnya melalui banyak pertanyaan seperti ‘kenapa’ dan ‘bagaimana bisa’ sebelum diserap.

“Pola berpikir kritis saat ini menjadi tren yang dikembangkan di negara eropa. Pola ini sangat membantu melahirkan inovasi-inovasi yang menjawab permasalahan kesehatan,” tambahnya.

Komitmen untuk menguatkan pola berpikir kritis ini akan Nelisson implementasikan dalam pelaksanaan riset.

Penulis : Ismaul Choiriyah